Sumbawanews.com,- Gempuran udara Israel terhadap kota Tyre di Lebanon selatan menyebabkan kehancuran masif, dengan sejumlah bangunan residensial runtuh akibat serangan beruntun. Video yang beredar menunjukkan pemandangan pascaserangan yang memilukan: reruntuhan beton, mobil terbakar, dan jalan-jalan yang dipenuhi puing. Serangan paling mematikan menghantam sebuah gedung apartemen di wilayah padat penduduk, dihujani beberapa rudal sekaligus.
Meski otoritas Israel sebelumnya telah mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi warga di sejumlah kawasan, banyak warga tetap tinggal—baik karena tidak punya tempat pergi, maupun karena merasa tidak aman di tempat lain. Pihak berwenang Lebanon melaporkan puluhan korban jiwa dan ratusan rumah hancur total, sementara fasilitas medis dan infrastruktur dasar seperti listrik dan air pun ikut terganggu.
Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi militer yang semakin intens di perbatasan Israel-Lebanon sejak awal tahun 2026, dengan Israel menargetkan lokasi yang diduga menjadi basis gerilyawan Hezbollah. Namun, dampaknya justru paling terasa di kalangan warga sipil yang tak bersenjata. PBB dan organisasi kemanusiaan mendesak gencatan senjata segera, memperingatkan bahwa Tyre kini berada di ambang bencana kemanusiaan.
Pemerintah Lebanon mengecam serangan itu sebagai pelanggaran hukum internasional, sementara Israel mempertahankan bahwa semua serangan ditujukan pada “target militer yang sah.” Namun, laporan lapangan dari para jurnalis dan tim penyelamat menunjukkan bahwa sebagian besar lokasi yang dihancurkan adalah kawasan hunian, bukan pangkalan militer.















