Sumbawanews.com,- Beirut – Setelah berbulan-bulan konflik mematikan di perbatasan Lebanon-Israel, kedua pihak secara resmi menyetujui gencatan senjata yang berlaku mulai pukul 16.00 waktu setempat, Jumat (19/6/2026). Kesepakatan ini dicapai setelah perundingan diplomatik intensif yang melibatkan perantara AS dan Qatar, dengan dukungan terselubung dari Iran.
Pejabat senior Amerika Serikat yang tidak ingin disebutkan namanya mengonfirmasi bahwa kedua belah pihak telah sepakat menghentikan permusuhan. “Hizbullah dan Israel telah menyetujui gencatan senjata,” ujar pejabat itu, menambahkan bahwa kesepakatan ini menjadi titik balik setelah gelombang serangan udara Israel yang meluluhlantakkan wilayah selatan Lebanon, Bekaa, hingga Baalbek dalam beberapa hari terakhir.
Namun, ketenangan yang dijanjikan tak berjalan mulus. Meski gencatan senjata telah diumumkan, pesawat tempur Israel tetap melancarkan serangan udara di Nabatieh, sebuah kota di Lebanon selatan, beberapa jam setelah waktu berlakunya. Laporan dari koresponden Al Mayadeen menunjukkan bahwa serangan itu terjadi tepat saat gencatan mulai berlaku, memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan itu mungkin rapuh.
Di sisi lain, sumber-sumber dari Hizbullah mengonfirmasi kepada Reuters bahwa kelompok tersebut telah menghentikan semua operasi militer terhadap Israel. Sementara itu, seorang pejabat tinggi Israel yang dikutip Channel 13 menyatakan, “Saat ini kami berada dalam kondisi gencatan senjata. Jika Hizbullah tidak menyerang, maka menurut kami, ini bukan waktunya untuk berperang.” Namun, ia menegaskan bahwa pasukan Israel tetap berada di wilayah selatan Lebanon dan mempertahankan hak untuk merespons setiap ancaman langsung terhadap pasukan atau wilayahnya.
Kesepakatan ini muncul di tengah tekanan internasional yang semakin kuat, terutama setelah serangan Israel yang menewaskan puluhan warga sipil dan merusak infrastruktur penting di Lebanon. Pada saat yang sama, korban di pihak Israel juga terus berjatuhan—termasuk empat tentara IDF, salah satunya seorang komandan batalyon, yang tewas dalam serangan Hizbullah di perbatasan.
Meski demikian, keberlanjutan gencatan senjata masih dipertanyakan. Kedua belah pihak masih menyimpan dendam mendalam, dan kehadiran pasukan Israel di tanah Lebanon—yang sebelumnya dianggap sebagai pendudukan—menjadi sumber ketegangan abadi. Sementara itu, warga sipil di kedua sisi perbatasan menanti dengan harap-harap cemas: apakah ini akhir dari kekerasan, atau hanya jeda sebelum badai berikutnya.
Diplomasi yang menghasilkan kesepakatan ini dinilai sebagai pencapaian signifikan, terutama mengingat ketegangan yang pernah mencapai titik paling panas dalam dekade terakhir. Namun, bagi ribuan keluarga yang kehilangan anggota keluarga, rumah, dan masa depan mereka, gencatan senjata bukanlah perdamaian—hanya jeda yang rapuh, yang mungkin bisa runtuh dengan satu tembakan saja.

















