Sumbawanews.com,- Kepala negosiator Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, tiba di Oman pada Senin (22/6), dalam langkah strategis pasca kesepakatan rahasia dengan Amerika Serikat di Swiss yang membuka jalur komunikasi darurat di kawasan Teluk. Kunjungan ini bukan sekadar bentuk protokoler, melainkan upaya sistematis untuk memperkuat koordinasi keamanan maritim di Selat Hormuz—salah satu jalur pelayaran paling kritis di dunia.
Qalibaf, yang juga mantan ketua parlemen Iran, melakukan serangkaian pembicaraan dengan pejabat tinggi Oman, termasuk membahas mekanisme patroli bersama dan sistem pelaporan cepat bagi kapal-kapal komersial yang melintasi perairan strategis tersebut. Langkah ini dirancang untuk mencegah eskalasi tak terduga, terutama setelah ketegangan tinggi antara Teheran dan Washington memasuki fase baru pasca kesepakatan di Jenewa.
Tak hanya berdialog dengan Oman, Qalibaf juga dikonfirmasi telah menjalin kontak langsung dengan perwakilan AS di wilayah tersebut, membahas pembentukan *hotline* militer-maritim yang dapat diaktifkan dalam situasi krisis—seperti insiden penyitaan kapal, gangguan navigasi, atau provokasi udara. Mekanisme ini diharapkan menjadi jembatan stabilisasi, mengurangi risiko salah paham yang bisa memicu konflik tak terkendali.
Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia, menjadi jalur vital bagi 20% pasokan minyak global. Ketidakstabilan di sana berdampak langsung pada harga energi dunia. Dengan Oman sebagai mediator netral dan tuan rumah yang dipercaya, Iran berupaya menunjukkan komitmen pada diplomasi pragmatis—bukan hanya untuk meredam tekanan AS, tetapi juga membangun kepercayaan dengan negara-negara tetangga yang selama ini waspada terhadap ambisi regionalnya.
Kesepakatan dengan AS yang terjalin di Swiss, meski belum diumumkan secara resmi, diyakini mencakup jaminan bahwa Iran tidak akan menghentikan lalu lintas kapal komersial, sementara Washington bersedia mengurangi sanksi terhadap sektor maritim Iran. Kunjungan Qalibaf ke Oman menjadi babak lanjutan dari permainan diplomasi yang rumit: membangun keamanan melalui kerja sama, bukan ancaman.
Diplomasi ini menandai pergeseran halus dalam strategi Teheran—dari sikap defensif menuju inisiatif proaktif, dengan Oman sebagai mitra kunci dalam mempertahankan stabilitas di jalur laut yang tak bisa dibiarkan goyah.















