Sumbawanews.com,- Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengajak negara-negara Muslim utama membentuk arsitektur keamanan regional baru yang berbasis solidaritas dan dialog, menggagas kerja sama strategis yang menyerupai model NATO namun berakar pada kepentingan bersama umat Islam. Dalam kunjungan resmi ke Pakistan, Pezeshkian menekankan bahwa stabilitas di Asia Barat dan Teluk Persia tidak mungkin dicapai melalui intervensi asing, melainkan harus dipimpin oleh kekuatan regional itu sendiri.
Ia secara khusus menyerukan kolaborasi dengan Pakistan, Arab Saudi, Turki, Mesir, dan Qatar—negara-negara yang dianggap memiliki kapasitas politik dan militer untuk menjadi tulang punggung inisiatif ini. Meski tidak menyebut istilah “NATO Islam” secara resmi dalam pidatonya, penggunaan frasa “front keamanan bersatu” dan “arsitektur keamanan regional baru” jelas merujuk pada konsep yang selama ini ramai dibahas di kalangan analis strategis sebagai alternatif terhadap dominasi aliansi Barat.
Pezeshkian menegaskan bahwa persatuan umat Islam bukan sekadar simbol religius, tapi kebutuhan strategis di tengah tekanan geopolitik yang semakin kompleks. “Persatuan dan solidaritas umat Islam sangat penting untuk menghadapi tantangan bersama,” ujarnya, mengutip pemikiran filsuf Muslim Muhammad Iqbal untuk memperkuat argumennya tentang kebangkitan peradaban Islam yang mandiri.
Kunjungannya ke Islamabad—atas undangan Perdana Menteri Shehbaz Sharif—menjadi momentum diplomatik penting, terutama menyusul perkembangan terbaru dalam hubungan Iran-Saudi yang mulai mencair setelah mediasi China. Meski hubungan Teheran dengan sejumlah negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait masih tegang, Pezeshkian menekankan bahwa pintu dialog tetap terbuka bagi semua pihak yang bersungguh-sungguh mencari perdamaian.
Pernyataan ini sejalan dengan sinyal dari Riyadh dan Ankara yang belakangan juga menunjukkan kecenderungan untuk memperkuat koordinasi keamanan di kawasan. Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman, misalnya, pernah mengantarkan pesan resmi dari Raja Salman kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei pada April 2025, menandai upaya diplomasi yang semakin intensif.
Dengan latar belakang ketegangan berkepanjangan antara Iran dan Barat, serta kekhawatiran terhadap ekspansi Israel, inisiatif ini dipandang sebagai upaya strategis untuk membangun kekuatan tandingan yang tidak bergantung pada kekuatan eksternal. Pezeshkian menegaskan: “Keamanan, kemakmuran, dan kemajuan hanya bisa diraih melalui dialog jujur dan interaksi konstruktif antar negara tetangga—bukan melalui intervensi atau ancaman.”
Langkah ini, jika diwujudkan, akan mengubah peta keamanan Timur Tengah secara mendasar—menggantikan logika hegemoni dengan logika kolaborasi, dan mengganti ketergantungan pada aliansi Barat dengan kerja sama berbasis identitas dan kepentingan bersama. Dunia pun kini menanti respons dari negara-negara yang diajak, terutama Saudi dan Turki, yang posisinya sebagai pemain kunci akan menentukan apakah mimpi ini menjadi kenyataan, atau sekadar retorika diplomasi yang menguap di tengah badai geopolitik.















