Sumbawanews.com,- Media pemerintah Iran melaporkan bahwa draf kesepakatan rahasia dengan Amerika Serikat mencakup pencairan aset Iran senilai 12 miliar dolar AS—setara dengan Rp 180 triliun—yang selama ini dibekukan di bank-bank internasional. Laporan itu, yang diambil dari sumber dalam negosiasi, menyebut AS berjanji akan memberikan akses penuh terhadap dana tersebut dalam waktu 60 hari, tanpa batasan penggunaan, sehingga Iran dapat mengalirkannya ke sektor strategis seperti energi, kesehatan, dan infrastruktur.
Namun, pernyataan ini langsung bertentangan dengan respons Gedung Putih yang menegaskan bahwa “tidak ada dana yang akan dicairkan hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.” Presiden Donald Trump, dalam pidato Jumat lalu, menyatakan bahwa setiap kesepakatan damai harus disertai komitmen konkret dari Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran internasional tanpa hambatan—posisi yang sejalan dengan kebijakan AS selama bertahun-tahun.
Sementara itu, televisi negara Iran menegaskan bahwa Teheran tetap akan mempertahankan kendali atas jalur strategis itu, yang telah diblokade sejak konflik bersenjata meletus. Pernyataan ini memperdalam jurang narasi antara kedua pihak: Washington menuntut akses bebas, sementara Tehran menganggap kontrol atas Selat Hormuz sebagai kedaulatan tak tergoyahkan.
Draf kesepakatan yang bocor itu juga menyebut bahwa tim teknis Iran, termasuk kepala bank sentral, telah bertemu dengan perwakilan AS di Qatar dalam beberapa hari terakhir untuk membahas mekanisme pencairan dan pengawasan dana. Sumber di Doha mengatakan, pembahasan fokus pada cara memastikan dana tidak dialihkan untuk keperluan militer, meski tidak ada kesepakatan formal soal pengawasan bersama.
Ketegangan ini muncul di tengah eskalasi ketegangan militer: serangan udara AS terhadap infrastruktur di Karaj, sekitar 30 kilometer barat Teheran, pada awal April 2026, masih menjadi luka terbuka bagi Iran. Sementara itu, pasar global merespons dengan gejolak—harga minyak dan emas melonjak, mengindikasikan kekhawatiran akan ketidakpastian jangka panjang.
Meski media Iran menyebut kesepakatan “sudah dekat,” Gedung Putih tetap enggan mengonfirmasi keberadaan draf apa pun. Para analis memperingatkan bahwa perbedaan mendasar—terutama soal Selat Hormuz dan pengawasan dana—masih menjadi penghalang utama. “Ini bukan soal uang,” ujar seorang diplomat Eropa yang mengetahui proses negosiasi. “Ini soal siapa yang menang, dan siapa yang kalah.”
Dalam konteks ini, pencairan 12 miliar dolar bukan sekadar pemulihan ekonomi—ia adalah simbol politik: apakah Iran akan mengorbankan kedaulatan strategisnya demi akses keuangan, atau AS akan mengakui keberadaan Iran sebagai kekuatan regional yang tak bisa diabaikan. Jawabannya, kini, masih tersembunyi di balik pintu-pintu rahasia di Doha.















