Home Berita Nasional Iran dan AS Masih Berburu Kesepakatan di Balik Layar

Iran dan AS Masih Berburu Kesepakatan di Balik Layar

Sumbawanews.com,- Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa komunikasi intensif antara Teheran dan Washington terus berlangsung, meski belum ada titik terang dalam upaya meredakan ketegangan yang telah memicu serangan militer berskala besar beberapa bulan lalu. Dalam pernyataan melalui platform Telegram, Araghchi menegaskan bahwa semua spekulasi publik saat ini belum berdasar—“Sampai hasil nyata tercapai, tidak ada ruang untuk penilaian apapun.”

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku tengah mengevaluasi opsi terakhir terkait kebijakan terhadap Iran, setelah menggelar pengarahan intelijen di Gedung Putih pada Jumat lalu. Namun, laporan dari The New York Times mengungkap bahwa Trump justru memperketat syarat-syarat yang diajukan untuk kesepakatan damai, termasuk pengawasan ketat terhadap transfer uranium dan pembatasan lebih ketat terhadap program nuklir Iran. Proposal baru itu telah disampaikan ke Teheran melalui saluran diplomatik rahasia.

Ketegangan memuncak setelah serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari yang menargetkan sejumlah fasilitas strategis di Iran, menewaskan warga sipil dan merusak infrastruktur penting. Respons cepat kedua belah pihak kemudian menghasilkan gencatan senjata sementara selama dua pekan pada 7 April. Namun, upaya perundingan di Islamabad pada bulan berikutnya gagal membuahkan hasil, memicu Washington untuk memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran—langkah yang hingga kini masih berlaku, seperti ditegaskan oleh Menteri Pertahanan AS.

Trump kemudian memperpanjang masa gencatan senjata, memberikan Teheran waktu tambahan untuk menyusun proposal perdamaian yang memenuhi tuntutan AS. Namun, sumber di kabinet Iran menyebut bahwa pihaknya masih mempertimbangkan apakah syarat-syarat baru itu dapat diterima tanpa mengorbankan kedaulatan nasional.

Sementara itu, para pengamat internasional memperingatkan bahwa setiap kegagalan dalam negosiasi ini bisa memicu eskalasi militer yang jauh lebih luas—terutama mengingat posisi strategis Iran di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi sekitar 20% pasokan minyak global. AS sendiri dikabarkan telah mengerahkan 70 kapal dagang di bawah pengawalan militer untuk memastikan kelancaran lalu lintas maritim, sementara Iran terus memperkuat pertahanan bawah tanahnya, termasuk membersihkan 50 akses terowongan yang rusak akibat serangan sebelumnya.

Dalam situasi yang rapuh ini, kedua negara tampak bermain dua peran: berbicara tentang perdamaian di depan publik, sementara di belakang layar, mereka saling menguji batas dan niat. Kedua pihak masih menunggu—Iran menunggu apakah AS akan melonggarkan tekanan ekonomi, dan AS menunggu apakah Iran akan menyerah pada tuntutan nuklirnya. Di tengah ketidakpastian ini, dunia pun menahan napas.

Previous articlePrabowo Pimpin Upacara Pancasila di Kemlu, Megawati Hadir
Next articleAS Larang Ekspor Chip AI ke Perusahaan China di Luar Tiongkok
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik