Home Berita Nasional Inggris Berburu Gelar Pertama Setelah 60 Tahun

Inggris Berburu Gelar Pertama Setelah 60 Tahun

Sumbawanews.com,- Tim nasional Inggris kembali datang ke Piala Dunia dengan misi suci: mengakhiri puasa gelar selama enam dekade. Di bawah asuhan Thomas Tuchel, generasi emas Three Lions membawa harapan sekaligus beban sejarah—karena terakhir kali mereka memenangi trofi dunia, pada 1966, para pemain saat ini bahkan belum lahir.

Sejak mencapai semifinal Piala Dunia 2018, Inggris tak pernah absen di empat besar turnamen besar: final Euro 2020, perempat final Piala Dunia 2022, hingga final Euro 2024. Setiap kali, mereka nyaris menyentuh takdir—namun selalu gagal menggapai puncak. Kini, dengan catatan sempurna di kualifikasi: delapan kemenangan, nol kebobolan—Inggris dianggap sebagai salah satu favorit utama di Piala Dunia 2026.

Harry Kane, kapten sekaligus ujung tombak, datang dalam kondisi puncak: baru saja memenangi Bundesliga dan Piala Jerman bersama Bayern Muenchen. Di belakangnya, generasi muda yang tumbuh di bawah bayang-bayang kegagalan kini menjadi tulang punggung: Jude Bellingham yang matang di Real Madrid, Declan Rice yang mengendalikan ritme lini tengah, Bukayo Saka yang menjadi simbol ketahanan mental, hingga Marcus Rashford yang kembali menemukan bentuk terbaiknya.

Tuchel membuat keputusan kontroversial dalam menyusun skuad final. Ivan Toney, yang mengejutkan dunia dengan gelar AFC Champions League Elite bersama Al-Ahli, dipilih sebagai striker alternatif. Ollie Watkins, pencetak gol krusial bagi Aston Villa di Liga Europa, juga masuk. Namun, nama-nama besar seperti Phil Foden, Trent Alexander-Arnold, dan Harry Maguire—yang pernah jadi andalan—terpaksa absen. Cole Palmer, yang musim ini terganggu cedera, juga tidak dibawa. Tuchel menegaskan: ini bukan soal reputasi, tapi kecocokan, kekompakan, dan chemistry tim.

Saka, yang baru berusia 24 tahun, menjadi wajah dari generasi yang terlalu sering hampir menang. Ia pernah menangis di final Euro 2020, lalu bangkit membawa Arsenal meraih gelar Liga Inggris setelah 22 tahun. “Kegagalan bukan akhir,” katanya. “Ia adalah bahan bakar.”

Inggris memang pernah menjadi raksasa sepak bola—tapi hanya sekali juara dunia. Sejak Bobby Moore dan Geoff Hurst mengangkat trofi di Wembley, berbagai generasi—dari Lineker hingga Rooney—gagal meniru jejak mereka. Momen Michael Owen mencetak gol spektakuler ke gawang Argentina di Piala Dunia 1998 masih menjadi ikon, tapi juga pengingat: betapa dekatnya mereka dengan keajaiban, dan betapa jauhnya dari kemenangan.

Kini, di Grup B, Inggris akan menghadapi Kroasia, Ghana, dan Panama. Jadwal mereka: pertandingan pembuka di Dallas, lalu Boston, dan penutup di New York. Tantangan bukan hanya lawan-lawan, tapi tekanan sejarah: 60 tahun menunggu, dan satu kesempatan untuk menulis ulang narasi.

Jika mereka menang, bukan hanya trofi yang diraih—tapi mimpi yang selama enam puluh tahun tergantung di udara, akhirnya bisa diletakkan di tanah.

Previous articleDadan Hindayana Dicopot, Nanik S Deyang Gantikan Pimpin BGN
Next articleTeheran Tegaskan Akan Balas Serangan Israel di Lebanon
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik