Home Berita Internasional Indonesia Kukuhkan Solidaritas Antikolonial untuk Palestina di UI

Indonesia Kukuhkan Solidaritas Antikolonial untuk Palestina di UI

Sumbawanews.com,- Universitas Indonesia (UI) kembali menegaskan komitmen Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan anti-kolonial global. Dalam diskusi dan pameran bertajuk *Towards Palestinian Liberation: Anti-Colonialism Solidarity from Indonesia for Palestine* di Gedung Mochtar Riady, FISIP UI, Rabu (19/8/2026), sejumlah akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan aktivis menekankan bahwa perjuangan Palestina bukan sekadar konflik regional, melainkan lanjutan sejarah perlawanan terhadap penjajahan yang masih berlangsung.

Wakil Rektor UI, Prof. Hamdi Muluk, menegaskan bahwa prinsip kemerdekaan bagi semua bangsa, sebagaimana diamanatkan Pembukaan UUD 1945, menjadi dasar moral solidaritas Indonesia. Ia menolak reduksi isu Palestina hanya sebagai isu keagamaan, melainkan menempatkannya dalam kerangka hak menentukan nasib sendiri dan keadilan global. Pemahaman mendalam tentang kolonialisme dan perlawanan rakyat Palestina, menurutnya, harus menjadi fondasi dukungan yang berkelanjutan, bukan sekadar simpati sesaat.

Ketua Klaster Riset Solidaritas Selatan FISIP UI, Asra Virgianita, mengingatkan bahwa kegiatan semacam ini telah berjalan sejak 2024 dan bertujuan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Penulis buku terkait, Hamza Hamouchene dari Transnational Institute, menekankan bahwa perjuangan Palestina adalah bagian dari perlawanan politik melawan imperialisme, bukan hanya kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa teori tanpa praktik solidaritas tidak cukup untuk mengubah realitas.

Editor buku, Abi Bae, menghubungkan semangat ini dengan Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, yang menjadi simbol solidaritas Global South. Ia menilai kebangkitan gerakan internasional pasca-genosida di Gaza adalah upaya membangkitkan kembali semangat internasionalisme dunia ketiga. Akademisi Shofwan Al Banna Choiruzzad menambahkan bahwa Soekarno selalu menempatkan Indonesia sebagai aktor sentral dalam gerakan kemerdekaan global, dan tatanan kolonial masih eksis hingga kini.

Nadine Sherani Salsabila dari KontraS mengingatkan bahwa dukungan terhadap Palestina harus dilihat dalam konteks sejarah panjang sejak 1948, bukan hanya sejak Oktober 2023. Ia mempertanyakan bagaimana mempertahankan memori kolektif agar solidaritas tidak berhenti sebagai respons sementara. Sementara Rachmi Hertanti dari Transnational Institute mengangkat isu ekstraksi sumber daya mineral kritis yang mengancam kedaulatan negara-negara Selatan.

Pameran seni *Solidarity through Art* di Selasar Gedung Mochtar Riady menampilkan karya dari Republika, Adara, SMART 17, Asosiasi Fana, dan Amnesty International, sementara penjualan merchandise seluruhnya didonasikan untuk Palestina. Bella Fauzi dari Tanah Para Nabi Movement membawakan lagu “Tanah Para Nabi” dan “Our Power”, karya kolaborasi Indonesia-Malaysia yang terinspirasi gerakan Global Sumud Flotilla.

Rangkaian kegiatan ini menegaskan bahwa solidaritas terhadap Palestina dapat diwujudkan melalui riset, seni, musik, kampanye publik, dan gerakan sipil. Penyelenggara berharap diskusi ini bukan sekadar peristiwa sehari, melainkan awal dari jejaring pengetahuan dan aksi yang terus berkembang antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat. Bagi UI, dukungan ini adalah perwujudan nyata dari prinsip dasar Indonesia: menolak kolonialisme dan memperjuangkan hak setiap bangsa untuk merdeka.

Previous articleArsenal Genggam Gelar, Gaji Pemain Tembus Rekor Tertinggi di Premier League
Next articlePNM Salurkan Bantuan Darurat ke Korban Gempa NTT, Fokus pada Kebutuhan Nyata Masyarakat