Home Serba Serbi Tekno Home Masa Depan: Antara Kecanggihan dan Kebutuhan Nyata

Home Masa Depan: Antara Kecanggihan dan Kebutuhan Nyata

Sumbawanews.com,- Di tengah gelombang teknologi yang kian merasuk ke setiap sudut rumah, definisi “rumah” pun berubah—bukan hanya soal desain atau warna dinding, tapi soal kelangsungan hidup, keterjangkauan, dan kemanusiaan. Dalam kolaborasi unik antara Architectural Digest dan WIRED, dua pemimpin editorial global, Amy Astley dan Katie Drummond, menggali masa depan tempat tinggal yang tak lagi hanya cerdas, tapi juga cerdas dalam arti yang lebih manusiawi.

Rumah masa depan bukan lagi sekadar tempat di mana lampu menyala otomatis saat Anda masuk, atau termostat menyesuaikan suhu berdasarkan kebiasaan tidur Anda. Lebih dari itu, ia harus mampu bertahan—di atas tiang baja setinggi 23 kaki seperti rumah Shearwater di pesisir, yang dirancang untuk menghindari banjir akibat kenaikan permukaan laut. Ia harus bisa dibangun dengan tanah terkompresi, bambu, atau kayu tahan api, seperti yang dilakukan arsitek di berbagai belahan dunia yang memilih solusi lokal dan rendah teknologi. “Dulu, desain tahan bencana terdengar ekstrem. Sekarang, itu kebutuhan,” ujar Astley.

Di sisi lain, kecanggihan teknologi—terutama kecerdasan buatan—menimbulkan dilema moral. Steven Blum, dalam esainya yang menyentuh, menceritakan bagaimana ia memasang mikrofon sepanjang waktu di rumah ayahnya yang lanjut usia untuk memantau kesehatannya. “Ini bukan sekadar alat bantu. Ini tentang kekhawatiran, rasa bersalah, dan batas antara perhatian dan pengawasan,” katanya. Pertanyaan yang sama muncul di mana-mana: seberapa jauh kita bersedia mengorbankan privasi demi rasa aman? Apakah kita siap hidup di rumah yang terus-menerus mengamati, merekam, dan menganalisis setiap napas?

Tapi tak semua orang ingin rumah yang “cerdas”. Banyak yang justru memilih kembali ke hal-hal sederhana: telepon kabel yang masih berfungsi, lampu tanpa sensor, ruang-ruang sunyi tanpa notifikasi. Jill Kargman, dalam tulisannya yang penuh humor, menggambarkan perlawanan terhadap “smart everything” sebagai bentuk pemberontakan budaya—sebuah keinginan akan ketenangan, bukan otomasi. Desainer interior kini berperan bukan hanya sebagai penata ruang, tapi sebagai penjaga kemanusiaan: menciptakan sudut-sudut untuk bersembunyi dari dunia digital.

Ketidakmampuan finansial pun menjadi tantangan paling nyata. Survei global yang dilakukan WIRED menunjukkan, prioritas utama masyarakat bukan lagi rumah paling canggih, tapi rumah yang terjangkau dan tahan terhadap dampak iklim. Bahkan tim Gear WIRED, yang biasanya mengevaluasi gadget paling mutakhir, justru merekomendasikan lampu sederhana sebagai “teknologi rumah” paling berguna. “Kita bicara tentang masa depan, tapi banyak orang masih berjuang untuk memiliki rumah hari ini,” kata Astley.

Di Petaluma, California, Stewart Brand, ikon budaya dan pencipta The Whole Earth Catalog, membangun rumah ramah lingkungan yang dirancang khusus untuk masa tuanya—bukan karena ia kaya, tapi karena ia memahami bahwa teknologi harus melayani manusia, bukan sebaliknya. Di sana, rumah bukan simbol kemajuan, tapi pernyataan tentang bagaimana kita ingin hidup—dan bagaimana kita ingin mati.

Masa depan rumah bukan tentang seberapa banyak yang bisa dikendalikan dari jarak jauh. Ia tentang seberapa baik rumah bisa menyesuaikan diri—dengan iklim, dengan anggaran, dengan usia, dan dengan kerentanan manusia. Yang paling mewah bukan lagi teknologi paling canggih, tapi ruang yang tenang, aman, dan bisa dimiliki. Karena pada akhirnya, rumah bukan tempat yang menjawab semua pertanyaan. Ia adalah tempat yang mau mendengarkan—tanpa harus selalu menjawab.

Previous articleGempa 6,7 M Guncang Sulteng, 32 Orang Terluka
Next articleCina Dorong Myanmar Bangun Pembangunan Berbasis Rakyat
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.