Home Serba Serbi Tekno Hidrogen dari Limbah Ayam Picu Api Misterius di Sleman

Hidrogen dari Limbah Ayam Picu Api Misterius di Sleman

Sumbawanews.com,- Tim peneliti Universitas Gadjah Mada menyimpulkan bahwa kemunculan puluhan titik api di rumah-rumah warga di Seyegan, Sleman, berasal dari gas hidrogen yang dihasilkan dari limbah pemotongan ayam. Setelah lebih dari dua pekan melakukan investigasi mendalam, tim dari Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM menegaskan tidak ada bukti fenomena alam seperti kebocoran gas alam, aktivitas geologi, atau anomali elektromagnetik yang menjadi penyebabnya.

Pemantauan lapangan menggunakan drone, georadar, geolistrik, dan sensor inframerah dalam radius 200 meter tidak menunjukkan sumber panas tak wajar. Retakan tanah yang sempat diduga sebagai jalur keluarnya gas pun dinyatakan tidak mengandung gas alam atau senyawa mudah terbakar. “Kami menemukan jejak PVC—polivinil klorida—pada sisa kebakaran di keramik, kayu, dan tripleks,” ujar Ketua Tim, Prof. Alva Edy Tontowi. “Ketika material ini terbakar, ia melepaskan gas hidrogen klorida, yang terdeteksi alat sebagai hidrogen murni. Inilah yang membuat pembacaan gas tetap tinggi meski api sudah padam.”

Gas hidrogen yang menjadi pemicu awal, menurut tim, berasosiasi dengan limbah organik dari industri pemotongan ayam di sekitar lokasi. Limbah tersebut, saat mengalami proses dekomposisi anaerobik, menghasilkan gas pyrophoric—senyawa yang dapat menyala spontan saat bersentuhan dengan oksigen. Kombinasi antara konsentrasi gas yang terakumulasi di bawah permukaan tanah dan keberadaan material PVC yang mudah terbakar menciptakan kondisi rentan terhadap percikan api tanpa sumber eksternal.

Anggota tim, Sarju Winardi, menekankan bahwa tidak ada indikasi api muncul karena “spontaneous ignition” atau pemantik elektromagnetik. “Semua data menunjukkan ini adalah kejadian kimia, bukan geofisika. Ini bukan misteri alam, tapi risiko manajemen limbah yang terabaikan,” katanya.

Temuan ini menutup fase investigasi akademik yang dimulai sejak 30 Mei 2026. Seluruh data dan rekomendasi kini telah diserahkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman untuk tindak lanjut teknis dan kebijakan. Dengan demikian, fenomena yang sempat memicu kekhawatiran luas di masyarakat—dari desas-desus hingga teori konspirasi—telah ditemukan akar ilmiahnya: sebuah kegagalan sistem pengelolaan limbah industri yang berubah menjadi bom waktu diam-diam di bawah tanah.

Previous articleKemenag Gelar Nikah Massal di Jakarta, Kuota Terbatas
Next articlePramono Anung Perkuat Kerja Sama Kota Global di Singapura
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.