Home Serba Serbi Tekno Harga Rumah Membuat Generasi Muda Menyerah

Harga Rumah Membuat Generasi Muda Menyerah

Sumbawanews.com,- Kepemilikan rumah pertama dulu menjadi simbol kedewasaan dan langkah pertama membangun kekayaan. Kini, harga yang melambung, suku bunga tinggi, dan kelangkaan perumahan terjangkau membuat mimpi itu semakin jauh dari jangkauan generasi muda Amerika. Di kota-kota besar, calon pembeli pertama kali harus menabung selama lebih dari satu dekade hanya untuk uang muka, sementara rumah-rumah kecil yang dulu menjadi pintu masuk menuju kelas menengah kini berubah menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang.

Laporan dari WIRED mengungkapkan bahwa di sebagian besar wilayah AS, harga rata-rata rumah starter kini lebih dari tiga kali lipat gaji tahunan pekerja rata-rata. Di San Francisco, harga rumah kecil setara dengan pendapatan 12 tahun; di New York, bahkan lebih parah. Di tengah krisis perumahan yang meluas, generasi milenial dan Gen Z mulai mengabaikan ide membeli rumah—bukan karena tidak ambisius, tapi karena sistem seolah sengaja dirancang untuk menghalangi mereka.

Banyak yang beralih ke sewa jangka panjang, atau bahkan memilih hidup bersama keluarga hingga usia 30-an. Di beberapa kota, muncul tren baru: kelompok teman yang menyewa rumah besar bersama, membagi biaya, dan menciptakan komunitas tempat tinggal yang disebut “friend compounds”—sebuah bentuk adaptasi kreatif terhadap ketidakmungkinan kepemilikan pribadi.

Sementara itu, kebijakan perumahan nasional masih terjebak dalam model lama: mempromosikan kepemilikan rumah sebagai tujuan utama, tanpa menangani akar masalah—kurangnya pasokan, spekulasi properti, dan hilangnya subsidi perumahan yang dulu menjadi tulang punggung kelas menengah. Bank-bank pun semakin enggan memberi pinjaman kepada calon pembeli tanpa uang muka besar dan riwayat kredit sempurna, menjadikan rumah bukan lagi aset yang bisa diraih, tapi hadiah yang hanya diberikan kepada yang sudah beruntung sejak lahir.

Di Mississippi, seorang arsitek membangun rumah di atas tiang tinggi untuk menghindari banjir—sebuah simbol nyata bahwa rumah masa depan bukan lagi soal gaya atau ukuran, tapi soal bertahan hidup. Di California, teknologi AI dipasang di rumah lansia untuk memantau detak jantung dan gerakan, karena layanan perawatan rumah tak lagi tersedia. Di kota-kota kecil, orang-orang mulai membangun kembali rumah dari bahan lokal, menghindari rantai pasok global yang rapuh.

Mimpi memiliki rumah pertama belum mati—tapi ia telah berubah bentuk. Ia kini bukan lagi simbol keberhasilan individu, melainkan tanda ketidakadilan sistemik. Dan bagi jutaan orang muda yang menatap daftar harga rumah dengan mata kosong, pertanyaannya bukan lagi “kapan saya bisa beli?”, tapi “apakah saya seharusnya mencoba?”

Previous articleGempa M6,7 di Sulteng, Satu Tewas dan Tiga Daerah Terparah
Next articleWabah Ebola di Kongo Masih Meluas, Bisa Berlangsung Satu Tahun
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.