Sumbawanews.com,- Harga minyak mentah global merosot tajam pada pembukaan perdagangan Asia, Senin (15/6/2026), menyusul pengumuman resmi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang dimediasi oleh Pakistan. Brent crude, patokan harga minyak dunia, anjlok 3,8 persen ke level 84,02 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) milik AS turun 4,1 persen menjadi 81,40 dolar AS per barel—penurunan terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Pengumuman itu datang setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengonfirmasi bahwa kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengakhiri konflik bersenjata yang memicu volatilitas energi global sejak Februari lalu. Penandatanganan resmi rencananya akan digelar di Jenewa, Swiss, pada Jumat (19/6/2026).
Tak lama setelah pengumuman itu, Presiden AS Donald Trump langsung merespons melalui platform Truth Social. “Minyak akan mengalir,” tulisnya, menjamin pembukaan kembali Selat Hormuz dan pencabutan total blokade maritim yang selama ini memutus arus perdagangan energi Timur Tengah. Iran pun segera mengonfirmasi langkah serupa, membuka jalur pelayaran strategis yang selama berbulan-bulan menjadi titik rawan konflik.
Sebelum konflik meletus pada 28 Februari 2026, harga minyak Brent berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Namun, ketegangan militer memicu lonjakan spekulatif hingga menyentuh 120 dolar AS—tingkat tertinggi dalam satu dekade. Kini, dengan kepastian politik yang muncul tiba-tiba, pasar energi melepaskan tekanan jangka pendek, memicu aksi ambil untung besar-besaran dari spekulan dan investor.
Kesepakatan ini tidak hanya mengakhiri krisis energi, tetapi juga membuka jalan bagi pemulihan ekonomi global yang selama ini terhambat oleh ketidakpastian di jalur strategis pengiriman minyak. Para analis memperkirakan, jika kesepakatan berjalan lancar, harga minyak bisa kembali stabil di kisaran 70–75 dolar AS per barel dalam beberapa minggu mendatang.
Dengan dibukanya Selat Hormuz dan dicabutnya sanksi maritim, industri pelayaran dan logistik global bersiap menyambut gelombang baru arus perdagangan. Bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, ini menjadi kabar baik yang bisa meredam tekanan inflasi dan menstabilkan harga bahan bakar dalam negeri.

















