Home Berita Olah Raga Hajime Moriyasu Targetkan Juara Piala Asia 2027 sebagai Akhir Karier bersama Jepang

Hajime Moriyasu Targetkan Juara Piala Asia 2027 sebagai Akhir Karier bersama Jepang

Sumbawanews.com,- Pelatih Timnas Jepang Hajime Moriyasu menetapkan gelar juara Piala Asia 2027 sebagai pencapaian terakhirnya sebelum mengakhiri masa jabatannya. Turnamen yang berlangsung di Arab Saudi dari 7 Januari hingga 5 Februari 2027 akan menjadi panggung terakhirnya memimpin Samurai Biru, setelah kontraknya diperpanjang selama enam bulan hingga akhir kompetisi. Moriyasu menegaskan bahwa meski waktu yang tersisa singkat, filosofi dan target jangka panjangnya tetap tak berubah: membangun tim yang mampu meraih gelar Piala Dunia 2050. Ia meyakini, kemenangan di Piala Asia 2027 bukan hanya kado perpisahan, tetapi juga fondasi penting bagi perkembangan sepak bola Jepang ke depan.

Moriyasu, yang berusia 57 tahun, menekankan bahwa pendekatannya tidak akan berubah terlepas dari durasi kontrak. “Entah itu empat tahun, dua tahun, setahun, atau enam bulan, pola pikir saya akan tetap sama dengan tujuan utama, Jepang juara Piala Dunia 2050,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dikutip *The Straits Times*. Ia berkomitmen menyatukan elemen masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam menyusun skuad, dengan memilih keputusan terbaik demi kepentingan jangka panjang tim.

Pertandingan melawan Timnas Indonesia di fase grup Piala Asia 2027 menjadi salah satu laga krusial yang akan dihadapi Jepang, sekaligus menjadi momen penting dalam proses transisi kepemimpinan. Setelah turnamen ini, jabatan pelatih kepala akan diserahkan kepada Go Oiwa. Meski demikian, Moriyasu menegaskan bahwa fokusnya hanya pada satu hal: membawa Jepang ke puncak Asia sebelum berpamitan.

PSSI dan para pengamat sepak bola Indonesia pun diminta waspada, mengingat ambisi Moriyasu yang tak hanya soal prestasi, tetapi juga warisan. Dengan kekuatan tim yang terus berkembang dan motivasi pribadi yang tinggi, Jepang diprediksi akan tampil sebagai salah satu favorit juara—bukan hanya karena reputasi, tetapi karena tekad seorang pelatih yang ingin meninggalkan jejak terbaiknya di akhir karier.

Previous article73 Persen Infrastruktur TI Sektor Publik Belum Siap Dukung AI
Next articleJustin Hubner Diincar Liga Indonesia, Pengamat Sarankan Tetap di Eropa