Sumbawanews.com,- Zohran Mamdani, wali kota New York dan figur paling berpengaruh di sayap progresif Partai Demokrat, kembali membangkitkan guncangan politik setelah sejumlah kandidat pendukungnya berhasil menggulingkan petahana senior dalam pemilihan pendahuluan di New York. Kemenangan telak ini bukan sekadar pencapaian elektoral—ia adalah sinyal kuat bahwa kekuatan akar rumput yang dibangun Mamdani mampu menggoyang struktur kekuasaan lama dalam partai yang selama ini didominasi elit.
Dalam beberapa bulan terakhir, nama Mamdani berubah dari tokoh lokal menjadi penentu arah politik nasional. Dukungannya menjadi kunci kemenangan Darializa Avila Chevalier atas Adriano Espaillat, ketua Kaukus Hispanik Kongres; Claire Valdez yang mengalahkan Antonio Reynoso, presiden distrik Brooklyn; serta sejumlah kandidat lain yang berhasil merebut kursi legislatif negara bagian. Semua ini terjadi tanpa modal finansial besar, melainkan melalui jaringan relawan muda, pemilih berusia di bawah 30 tahun, dan komunitas yang merasa terpinggirkan oleh politik arus utama.
“Setahun yang lalu bukan akhir gerakan. Itu awalnya,” ujar Mamdani kepada pendukungnya usai hasil pemilu diumumkan, menggarisbawahi visinya yang tak lagi terbatas pada kota New York, tapi pada transformasi sistemik Partai Demokrat.
Namun, di balik sorotan kemenangan, retakan mulai terlihat. Titik paling krusial muncul ketika Mamdani secara terbuka mencabut dukungannya terhadap Espaillat—seorang tokoh berpengaruh yang pernah menjadi mentor awalnya—dan beralih mendukung penantangnya, Avila Chevalier. Langkah ini dianggap sebagai pelanggaran norma politik yang selama ini dijunjung tinggi di dalam partai: loyalitas kepada senior dan konsistensi dalam aliansi.
Kemarahan tak hanya datang dari Espaillat. Nydia Velázquez, anggota Kongres veteran yang pernah menjadi salah satu pendukung pertama Mamdani, secara terbuka menyatakan kekecewaannya. Bagi sebagian elit Demokrat, tindakan Mamdani bukan sekadar strategi elektoral—ia adalah deklarasi perang terhadap hierarki partai yang sudah mapan.
Kemenangan Mamdani juga membuka jalan bagi agenda radikal: kenaikan pajak bagi kelompok kaya, perluasan jaminan sosial, dan kebijakan pro-Palestina yang semakin menggoyang hubungan dengan lobi pro-Israel seperti AIPAC. Tapi di saat yang sama, ia semakin terisolasi dari sayap moderat partai yang khawatir gerakan progresifnya akan memicu reaksi balik dari pemilih tengah dan memperlemah peluang Demokrat dalam Pilpres 2028.
Mamdani memang bukan lagi aktivis yang berdiri di tepi jalan. Ia kini berdiri di pusat badai—dipuja oleh generasi muda, dicurigai oleh elit, dan menjadi simbol perubahan yang tak bisa diabaikan. Tapi pertanyaan terbesar yang kini menggantung: apakah kekuatan revolusionernya mampu bertahan tanpa memecah partai yang menjadi rumahnya? Atau justru, ia sedang membangun kekuatan baru—yang tak lagi membutuhkan partai lama?















