Sumbawanews.com,- Dua gempa bumi berkekuatan masing-masing 7,2 dan 7,5 skala Richter mengguncang Venezuela pada Rabu malam, 24 Juni 2026, menewaskan sedikitnya 164 orang dan melukai 971 lainnya. Getaran hebat yang dirasakan hingga ke negara tetangga itu menghancurkan puluhan bangunan di ibu kota Caracas dan sekitarnya, terutama di Negara Bagian La Guaira, yang kini ditetapkan sebagai zona bencana terparah.
Presiden sementara Delcy Rodriguez, yang memimpin pemerintahan setelah Nicolas Maduro ditangkap dalam operasi militer AS dan dibawa ke Amerika Serikat untuk menjalani persidangan, mengumumkan status darurat nasional. Tim penyelamat dari berbagai wilayah dikerahkan secara intensif untuk mengevakuasi korban yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan, sementara Bandara Internasional Simon Bolivar ditutup total akibat kerusakan struktural yang tak bisa diabaikan.
Rekaman televisi menunjukkan pemandangan mencekam: warga berlarian keluar dari gedung-gedung yang bergoyang, debu membumbung tinggi di jalan-jalan ramai, dan tembok rumah runtuh hingga memperlihatkan isi dalam rumah—perabot, kamar tidur, bahkan foto keluarga—tergeletak di jalan raya. Di La Guaira, tiga anak kecil berhasil diselamatkan dari puing-puing, tubuh mereka penuh debu namun masih bernapas.
“Awalnya guncangannya pelan, lalu semakin kuat. Kami semua harus keluar, berkumpul di luar,” kata Hector Ricci, seorang warga Caracas yang masih gemetar setelah kejadian itu. “Ketika saya menoleh, rumah saya sudah tidak ada lagi.”
Pemerintah Venezuela membentuk dana rekonstruksi senilai US$200 juta untuk memulihkan rumah sakit, perumahan, dan infrastruktur kritis. Sementara itu, bantuan internasional mulai mengalir. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengumumkan pengiriman tim pencarian dan penyelamatan, peralatan medis, serta bantuan kemanusiaan. Presiden Donald Trump, yang kini menjabat sebagai Presiden AS, disebut telah berbicara langsung dengan Rodriguez melalui telepon—meski isi percakapan tidak diungkapkan.
Negara-negara lain seperti Ekuador, Meksiko, Qatar, dan El Salvador juga mengirimkan tim penyelamat. Presiden El Salvador Nayib Bukele, yang sebelumnya memiliki hubungan tegang dengan pemerintah Venezuela, menulis di platform X: “Kami menyampaikan solidaritas dan doa kami untuk kalian. Tetaplah kuat, Venezuela.”
Gempa ini merupakan yang terkuat melanda Venezuela dalam lebih dari seratus tahun terakhir. Meskipun negara ini berada di pertemuan lempeng Karibia dan Amerika Selatan, aktivitas seismiknya jauh lebih jarang dibandingkan negara-negara di Cincin Api Pasifik seperti Meksiko atau Chili. Pusat Peringatan Tsunami Pasifik sempat mengeluarkan peringatan, namun semuanya dicabut dalam hitungan jam.
Rodriguez meminta bantuan alat berat dari sektor swasta dan mengonfirmasi bahwa tim pencarian dan penyelamatan bersertifikasi PBB sedang dalam perjalanan menuju Venezuela. Operasi penyelamatan kini berjalan dengan urgensi tinggi—dengan waktu siang menjadi momen krusial untuk menyelamatkan nyawa yang masih tersisa di bawah puing.
Di tengah kehancuran, masyarakat Venezuela berdiri bersama. Di jalan-jalan, warga saling membantu, membagikan air, makanan, dan selimut. Di tengah duka, kekuatan manusia tetap bertahan—sebagaimana selalu terjadi ketika alam mengguncang, tapi semangat tak pernah runtuh.















