Home Berita Internasional Gelombang Panas Ekstrem Picu Lonjakan Pasien IGD di Italia

Gelombang Panas Ekstrem Picu Lonjakan Pasien IGD di Italia

Sumbawanews.com,- Gelombang panas ekstrem yang melanda Italia sejak pekan ini memicu lonjakan kunjungan ke unit gawat darurat di sejumlah kota besar, dengan peningkatan hingga 15 persen dibandingkan hari biasa. Data dari Perhimpunan Dokter Gawat Darurat Italia (Simeu) menunjukkan, beban kerja rumah sakit mulai terasa berat, terutama di kalangan lansia dan penderita gangguan kesehatan mental.

Alessandro Riccardi, Presiden Simeu, mengatakan peningkatan pasien tercatat sejak awal Juni 2026, seiring suhu udara yang terus melampaui ambang batas aman—bahkan mencapai 42 derajat Celsius di beberapa wilayah selatan. “Ini bukan sekadar cuaca panas biasa. Ini adalah tekanan sistemik terhadap layanan kesehatan yang sudah berjalan di ambang kapasitas,” ujarnya dalam konferensi pers pada Jumat, 26 Juni 2026.

Sebagian besar pasien yang datang mengalami dehidrasi berat, hipertensi akut, dan gangguan sirkulasi akibat paparan panas berkepanjangan. Di kota-kota seperti Roma, Napoli, dan Palermo, petugas medis melaporkan peningkatan signifikan kasus kelelahan panas pada lansia yang tinggal sendirian, tanpa akses AC atau bantuan sosial. Di sisi lain, rumah sakit jiwa juga mencatat lonjakan pasien dengan gejala kecemasan ekstrem dan halusinasi akibat stres termal.

Riccardi memperingatkan bahwa krisis ini berpotensi memburuk jika tidak ada intervensi cepat. “Kami kekurangan tenaga medis, terutama perawat malam. Jika gelombang panas berlangsung lebih dari tujuh hari berturut-turut, sistem bisa kolaps,” katanya.

Pemerintah Italia telah mengaktifkan protokol darurat cuaca ekstrem di 12 wilayah, termasuk membuka pusat pendingin publik, memperpanjang jam operasional puskesmas, dan mengirim tim mobile ke kawasan padat penduduk. Namun, para ahli kesehatan menilai langkah itu masih reaktif, bukan strategis. “Kita tidak bisa hanya menunggu orang jatuh sakit baru bergerak. Perlu investasi jangka panjang pada infrastruktur kesehatan yang tahan iklim,” ujar Dr. Laura Bianchi, epidemiolog dari Universitas Bologna.

Kondisi ini terjadi di tengah prediksi Badan Meteorologi Eropa bahwa gelombang panas tahun ini bisa menjadi yang terpanas sejak 2003, dengan suhu rata-rata 3,5 derajat Celsius di atas normal jangka panjang. Di Italia, lebih dari 3.000 kematian akibat panas tercatat pada musim panas 2022—angka yang kini menjadi bayangan menakutkan bagi petugas kesehatan.

Sementara itu, otoritas kesehatan meminta warga, terutama lansia dan anak-anak, untuk membatasi aktivitas di luar ruangan antara pukul 11 pagi hingga 5 sore, serta rutin memeriksa tetangga yang rentan. “Kita tidak bisa menghentikan matahari. Tapi kita bisa menghentikan kematian yang bisa dicegah,” tegas Riccardi.

Previous articleLPSK Beri Perlindungan Darurat pada Korban Penyekapan Tiga Tahun di Bandung
Next articleRusia Kembali ke Pesta Bola Dunia, FIFA Buka Jalan Lewat Turnamen U-15