Sumbawanews.com,- Di tengah hiruk-pikuk pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di New York, sebuah transformasi politik yang tak terbantahkan sedang berlangsung. Kandidat-kandidat yang secara terbuka mengkritik kebijakan Israel di Gaza dan menolak pengaruh kelompok lobi pro-Israel, khususnya American Israel Public Affairs Committee (AIPAC), berhasil meraih kemenangan telak atas para petahana yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Hasil-hasil ini bukan sekadar kejutan—melainkan tanda bahwa dominasi politik lobi Yahudi di Amerika Serikat mulai goyah, terutama di jantung politik Demokrat yang selama ini dianggap sebagai benteng terkuatnya.
Pada Selasa, 23 Juni 2026, Brad Lander, mantan komptroller Kota New York yang mengidentifikasi dirinya sebagai “Zionis liberal,” mengalahkan anggota Kongres Dan Goldman dalam pemilihan pendahuluan distrik Kongres ke-10. Kemenangan Lander bukan karena popularitas semata, melainkan karena ia secara konsisten menyerang Goldman atas penolakannya terhadap usulan larangan penjualan senjata ke Israel dan keengganannya menyebut operasi militer di Gaza sebagai genosida. Di distrik lain, Darializa Avila Chevalier, seorang sosialis demokratis, menggulingkan Adriano Espaillat—politikus senior yang selama bertahun-tahun menerima dana besar dari AIPAC. Sementara itu, Claire Valdez tampak pasti akan menggantikan Nydia Velázquez yang pensiun, setelah berhasil menggoyahkan lawannya dengan menyoroti keterlambatan dalam mengakui krisis kemanusiaan di Gaza dan keterikatan finansial dengan lobi pro-Israel.
Kemenangan-kemenangan ini terjadi di New York, kota dengan populasi Yahudi terbesar di Amerika—tempat di mana dukungan tak bersyarat terhadap Israel selama ini dianggap sebagai syarat mutlak untuk bertahan dalam politik. Namun kini, suara-suara yang sebelumnya dianggap ekstrem justru menjadi magnet elektoral. Menurut laporan *Politico*, kandidat yang menentang perang di Gaza kini memiliki keuntungan politik yang jauh lebih besar daripada yang pernah tercatat dalam sejarah pemilu pendahuluan Demokrat. “Di 2026, menentang perang di Gaza bukan lagi risiko politik—tapi strategi menang,” ujar Jon Paul Lupo, pakar strategi Demokrat berpengalaman.
Perubahan ini bukan muncul dari ruang hampa. Ia adalah hasil dari gerakan sosial yang terus menguat sejak 2023: unjuk rasa massal di Brooklyn, aksi boikot oleh organisasi mahasiswa, dan tekanan dari basis pemilih muda yang semakin kritis terhadap kebijakan luar negeri AS. Wali Kota New York Zohran Mamdani, yang menjadi simbol perubahan ini, telah mengambil langkah-langkah simbolis sekaligus substansial—mulai dari menolak hadir di Parade Hari Israel hingga mencabut kebijakan yang melarang divestasi dari perusahaan yang terlibat dalam pendudukan Palestina. Kepemimpinannya, meski kontroversial, telah menjadi magnet bagi gerakan pro-Palestina yang sebelumnya terpinggirkan.
Di balik semua ini, AIPAC—organisasi lobi yang selama puluhan tahun menggelontorkan miliaran dolar untuk mendukung kandidat pro-Israel—terlihat kebingungan. Mereka mulai menyerang politisi Demokrat moderat yang dianggap “terlalu lemah” terhadap Israel, tetapi strategi itu justru memperkuat narasi bahwa mereka lebih peduli pada loyalitas ideologis daripada kepentingan rakyat Amerika. Kemenangan-kemenangan di New York bukan hanya lokal. Mereka menjadi peta jalan bagi kandidat pro-Palestina di seluruh negeri, yang kini melihat bahwa kritik terhadap kebijakan Israel tidak lagi menjadi kutukan politik—melainkan jalan menuju kekuasaan.
Dalam buku *The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy*, John Mearsheimer dan Stephen Walt pernah menulis bahwa kekuatan lobi Israel adalah faktor penentu dalam kebijakan luar negeri AS. Kini, di tengah gelombang suara baru dari basis pemilih urban, muda, dan beragam, kekuatan itu mulai diuji—dan tampaknya, tidak lagi tak tergoyahkan. Lobi Yahudi mungkin belum runtuh, tapi fondasinya sedang digali oleh generasi baru yang menuntut keadilan, bukan kesetiaan buta.















