Sumbawanews.com,- Gelombang panas ekstrem melanda Eropa, memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah untuk bulan Juni. Di Jerman, suhu mencapai 41,3 derajat Celsius di Saarbrücken, wilayah barat daya yang berbatasan dengan Prancis—angka tertinggi yang pernah tercatat di negara itu pada bulan tersebut. Angka ini menjadi puncak dari fenomena cuaca yang tak hanya mengguncang iklim, tetapi juga menghentikan aktivitas publik, mengganggu transportasi, dan memicu krisis kesehatan.
Di Belgia, suhu menyentuh 40 derajat Celsius di Kleine Brogel, sementara Belanda mencatat 39,4 derajat Celsius di Limburg. Inggris pun tak luput, dengan suhu mencapai 37,1 derajat Celsius di Cavendish, Suffolk. Prancis, yang telah mengalami tiga hari berturut-turut suhu tertinggi, kini menghadapi lonjakan kematian di rumah-rumah, memaksa pemerintah memprioritaskan sumber daya medis bagi kelompok rentan.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan bahwa gelombang panas ini akan berdampak luas pada kesehatan masyarakat, ekosistem, pertanian, dan tenaga kerja. “Sayangnya, kita perlu terbiasa dengan hal ini,” ujar juru bicara WMO, Clare Nullis.
Sekitar 150 juta orang di seluruh Eropa mengalami suhu di atas 35 derajat Celsius pada Jumat lalu. Di Republik Ceko, rekor nasional 40,4 derajat Celsius yang tercatat pada 2012 berpotensi dipecahkan. Austria dan negara-negara Balkan juga memperkirakan suhu akan menyentuh 39 derajat Celsius akhir pekan ini.
Dampaknya terasa hingga ke infrastruktur energi. Di Swiss, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Beznau terpaksa menghentikan operasi kedua reaktornya karena suhu Sungai Aare mencapai 25 derajat Celsius—melebihi ambang aman untuk pendinginan. Air sungai yang digunakan untuk mendinginkan reaktor tidak bisa dialirkan kembali dengan suhu lebih tinggi tanpa merusak ekosistem.
Para ilmuwan dari World Weather Attribution menyatakan bahwa suhu di Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan selatan Inggris kini 5 hingga 12 derajat Celsius di atas rata-rata musiman. Mereka menegaskan bahwa bulan Juni mengalami pemanasan paling cepat dibanding bulan lainnya, dan gelombang panas kali ini adalah yang paling parah yang pernah tercatat di wilayah tersebut.
Eropa, menurut layanan iklim Copernicus, menjadi benua yang memanas paling cepat di dunia—dua kali lebih cepat dari rata-rata global. Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, tapi realitas yang sedang menghancurkan normalitas.
Transportasi pun terganggu. Kereta Eurostar dari Cologne ke Paris mengalami gangguan di timur Brussels, dengan 400 penumpang terjebak di dalam, dan tiga di antaranya dirawat sebagai tindakan pencegahan. Di Prancis, dua acara besar di Paris dibatalkan, termasuk festival musik Solidays. Paris Pride mempertimbangkan penundaan pawai hingga September. Di Belanda, festival Defqon.1 dibatalkan setelah pemerintah mengeluarkan peringatan kode merah pertama kali dalam sejarah—memicu kerusuhan di kalangan pengunjung yang marah.
Jerman juga membatalkan sejumlah kegiatan, termasuk Hamburg Half Marathon yang semula dijadwalkan Sabtu. Sementara itu, ajang Diamond League di Stadion Charléty tetap berjalan, tetapi dengan jadwal diubah ke sore hari untuk mengurangi risiko kesehatan.
Gelombang panas ini bukan sekadar cuaca buruk. Ia adalah peringatan keras: bumi sedang berubah, dan manusia belum siap.















