Sumbawanews.com,- Ketua Umum PSSI dan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengungkapkan kemungkinan dicabutnya larangan kehadiran suporter tandang pada musim Super League 2026-2027, setelah hampir empat tahun diberlakukan sejak tragedi Kanjuruhan pada Oktober 2022. Kebijakan ini masih menunggu persetujuan FIFA dan syarat ketat yang harus dipenuhi oleh operator liga serta klub-klub peserta, termasuk jaminan keamanan dan tata kelola yang transparan. Erick menegaskan, PSSI telah berkomunikasi dengan FIFA yang tetap mengingat catatan kelam sepak bola Indonesia, namun membuka ruang untuk evaluasi jika semua pihak bertanggung jawab. Jika syarat terpenuhi, suporter dari kandang lawan berpeluang kembali menyaksikan laga secara langsung, meski keputusan akhir tetap bisa dicabut sewaktu-waktu jika terjadi pelanggaran.
Larangan suporter tandang diterapkan secara menyeluruh setelah insiden di Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang, sebuah tragedi yang memicu perhatian global dari FIFA dan memaksa Indonesia merevisi total sistem manajemen keamanan pertandingan. Selama bertahun-tahun, kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan citra sepak bola nasional. Kini, dengan rencana yang diajukan operator liga dan dukungan PSSI, langkah maju mulai terlihat—namun bukan tanpa syarat. Erick menekankan bahwa keputusan ini bukan sekadar keinginan emosional, melainkan hasil diskusi panjang yang mempertimbangkan aspek keamanan, hukum, dan reputasi internasional.
PSSI telah menyampaikan usulan pencabutan larangan ini kepada FIFA, yang memberikan catatan kompleks dan menekankan pentingnya pembelajaran dari masa lalu. Erick meminta seluruh pihak—mulai dari klub, operator liga, hingga pihak keamanan—untuk bersiap mengimplementasikan protokol ketat, termasuk pengawasan ketat terhadap perilaku suporter, penggunaan teknologi pendukung, dan koordinasi lintas lembaga. “Saya sudah ingatkan liga, PSSI sudah berupaya, FIFA terbuka, tapi tanggung jawab ada di tangan mereka,” tegasnya.
Dengan demikian, musim 2026-2027 menjadi titik uji penting bagi sepak bola Indonesia: apakah negara ini mampu membuktikan bahwa keberanian kembali menyatukan suporter di stadion tidak mengorbankan keselamatan. Jika berhasil, ini bukan hanya kembalinya atmosfer pertandingan, tapi juga simbol pemulihan kepercayaan global terhadap manajemen sepak bola Tanah Air.















