Sumbawanews.com,- Eks kiper Persiku Kudus, Nuri Agus Wibowo, dikabarkan menghilang sejak Senin, 8 Juni 2026, setelah mengalami serangkaian kejadian traumatis yang memicu kondisi psikologis berat. Keluarga mengungkap, Nuri sempat menjadi korban kecelakaan lalu lintas pada Februari lalu, saat ia bonceng teman dalam perjalanan mencari pekerjaan di Karanganyar, Jawa Tengah. Motor yang datang dari arah berlawanan menabraknya, menyebabkan patah tulang di jari kaki kiri dan benturan kepala yang memicu cedera serius.
Meski pelaku kecelakaan mengakui kesalahan dan terbukti melalui rekaman CCTV, pemulihan fisik Nuri berjalan lambat—diperkirakan membutuhkan 4 hingga 5 bulan. Ia pun tak bisa kembali bermain, sementara kontraknya dengan Persiku Kudus telah berakhir. Tekanan finansial dan kehilangan identitas sebagai atlet profesional, menurut kakaknya, Barep Wahyudi, membuat Nuri mengalami depresi berat.
“Dia sering bilang, ‘Apa yang bisa saya lakukan sekarang?’” ujar Barep. “Padahal, dokter bilang ini momen untuk istirahat, bukan untuk menyerah.”
Pada pukul 09.30 WIB, Senin 8 Juni, Nuri pergi dari rumah tanpa pamit. Ia hanya membawa sejumlah pakaian dan meninggalkan ponselnya. Rekaman CCTV menunjukkan ia memesan ojek daring menuju Indomaret dekat RS Kasih Ibu, Purwosari. Dari sana, jejaknya berlanjut ke Parakan, Temanggung, tempat ia mengunjungi mantan rekan satu tim di Madura United. Namun, setelah dua hari, ia kabur lagi—meminta diturunkan di pinggir jalan dekat Artos, Magelang, tanpa memberi kabar.
Sejak itu, tidak ada jejaknya. Keluarga dan relawan telah menelusuri ratusan titik: hotel, agen travel, rumah teman, hingga titik-titik rawan di sepanjang jalur Magelang. Semua upaya belum membuahkan hasil. Barep meyakini, adiknya pergi bukan untuk menghilang selamanya, tapi untuk “menenangkan diri dari beban yang terlalu berat.”
“Dia bukan orang yang mudah menyerah. Tapi kali ini, mungkin hatinya sudah terlalu lelah,” kata Barep, sambil menahan air mata.
Pencarian masih berlanjut. Keluarga meminta masyarakat, terutama di wilayah Magelang dan sekitarnya, untuk melaporkan jika melihat pria berpostur tinggi, berkulit sawo matang, dengan bekas luka di jari kaki kiri, yang mungkin mengenakan jaket hitam dan berjalan sendirian tanpa ponsel.
Kasus ini mengingatkan betapa rentannya mental atlet di luar panggung kejayaan—di mana cedera tak hanya merusak tubuh, tapi juga menghancurkan harapan.

















