Sumbawanews.com,- Pemain tim nasional voli putra Indonesia, Boy Arnez, menjadi pilar utama kemenangan tim meraih gelar juara AVC Men’s Cup 2026 di Jakarta pada 28 Juni lalu, setelah bangkit dari kekalahan 0-3 di laga pembuka melawan Korea Selatan dan menang 3-0 di final, mengantarkan Indonesia meraih titel pertama dalam sejarah turnamen ini. Di tengah tekanan netizen dan keraguan publik, pemain LavAni itu berhasil membangkitkan semangat tim lewat kepemimpinan pelatih Reidel Toiran, strategi servis mematikan, dan lompatan tinggi yang memukau, sekaligus membuka pintu tawaran berkarier di luar negeri.
Kemenangan Indonesia yang tak diprediksi siapa pun menjadi titik balik sejarah voli nasional. Setelah kalah telak dari Korea di awal turnamen, tim dibangunkan dari kekalahan mental oleh pelatih Reidel Toiran yang menggantikan Sergio Veloso akibat kendala visa. Toiran, yang lebih fasih berbahasa Indonesia dan memahami karakter pemain lokal, memberi kebebasan ekspresi di lapangan—bukan tekanan. “Dia bilang, ‘Kalian bisa.’ Itu yang bikin kami percaya diri,” ujar Arnez. Kunci kemenangan di final terletak pada konsistensi servis dan kepercayaan tim. Set pertama yang berakhir 34-32 menjadi momentum psikologis: tim yang sempat dianggap “tidak layak” justru mampu menghancurkan ketakutan mereka sendiri.
Arnez, yang meraih penghargaan MVP dan Best Outside Hitter, mengaku tak pernah membayangkan bisa menyabet gelar tersebut—bahkan lolos ke semifinal pun terasa seperti mimpi. Fisiknya yang ringan dan postur tubuhnya yang proporsional menjadi modal alami untuk lompatan tinggi, meski ia menekankan bahwa latihan konsisten lebih penting daripada bakat. “Saya belum pernah ukur vertical jump-ku. Tapi yang pasti, latihannya sama seperti rekan-rekan. Hanya saja, ketika kepercayaan diri mulai pulih, lompatan itu jadi lebih efektif,” ujarnya.
Di balik kemenangan, tekanan dari media sosial menjadi tantangan tersembunyi. Banyak cuitan meragukan kemampuan tim, membuat para pemain takut salah dan enggan berkreasi. “Kami baca, takut main jelek. Tapi setelah menang, semua berubah. Netizen sekarang justru yang paling semangat,” kata Arnez sambil tersenyum. Tawaran dari klub luar negeri pun mulai mengalir—meski ia belum memutuskan langkah selanjutnya, fokus utamanya kini adalah mempertahankan performa di LavAni, SEA V.League, dan Asian Games.
Arnez menegaskan bahwa mempertahankan gelar jauh lebih sulit daripada meraihnya. “Jangan hanya fokus mental. Fisik itu fondasi. Kalau cedera, semua usaha sia-sia.” Ia pun mengakui Thailand dan Filipina sebagai ancaman utama di Asia Tenggara, sementara di level Asia, semua tim kini setara. “Tak ada yang lemah. Semua harus diwaspadai.”
Dengan gelar juara dan pengakuan internasional, Boy Arnez tak lagi hanya menjadi pemain—ia menjadi simbol kebangkitan voli Indonesia yang tak lagi tunduk pada keraguan, tapi berdiri tegak dengan keyakinan dan kerja keras.















