Sumbawanews.com,- Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Candi Borobudur direkam secara utuh dalam bentuk digital berteknologi tinggi, menghadirkan replika imersif yang bisa dijelajahi seolah-olah berada di lokasi aslinya. Dokumentasi ini menjadi bagian dari Project ETERNAL, inisiatif global yang melibatkan perusahaan teknologi Antigravity dan Insta360, dengan misi melestarikan warisan budaya dunia melalui representasi spasial yang akurat dan dinamis.
Teknologi inti yang digunakan adalah 3D Gaussian Splatting (3DGS)—metode terkini dalam komputasi spasial yang mampu menghasilkan model digital dengan detail mikroskopis, namun tetap ringan untuk diproses secara real-time. Berbeda dengan pendekatan 3D konvensional yang membebani sistem, 3DGS memungkinkan pengguna menjelajahi candi secara fluida, bahkan melalui perangkat biasa, tanpa memerlukan perangkat khusus.
Untuk menangkap setiap sudut, relief, dan struktur arsitektur yang rumit, tim menggunakan drone 360° Antigravity A1 yang mampu merekam dalam resolusi 8K. Dengan kemampuan panoramic 360 derajat, drone ini mengumpulkan data visual secara efisien, memetakan lebih dari 2.600 panel relief, 72 stupa berlubang, dan struktur piramida raksasa yang membentuk candi. Hasilnya adalah peta digital yang tak hanya visual, tapi juga memori spasial utuh—dari puncak tertinggi hingga dasar tersembunyi teras bawah.
Sebelum Borobudur, Project ETERNAL telah berhasil mendigitalisasi situs-situs bersejarah Eropa seperti Pompeii dan Civita di Bagnoregio, Italia. Kini, pemilihan Borobudur sebagai proyek berikutnya bukanlah kebetulan. Candi ini dipilih sebagai simbol peradaban Nusantara yang setara dengan keagungan peradaban klasik dunia—sebuah bukti bahwa kejayaan budaya Asia tak kalah monumental.
“Borobudur bukan sekadar destinasi wisata. Ini adalah jantung dari identitas kita sebagai bangsa,” ujar Haris, perwakilan pengelola kawasan Borobudur. “Dengan dokumentasi digital ini, kami ingin memastikan bahwa generasi mendatang—bahkan yang tak pernah menginjakkan kaki di Magelang—bisa merasakan keagungan ini, sekaligus memahami betapa rapuhnya warisan ini.”
Sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, Borobudur terus menghadapi ancaman alam: pelapukan batu akibat hujan asam, guncangan seismik dari aktivitas vulkanik di sekitar Gunung Merapi, serta tekanan dari ribuan pengunjung setiap hari. Regulasi kunjungan pun semakin ketat—dari pembatasan jumlah wisatawan hingga larangan memegang relief—untuk memperlambat kerusakan fisik.
Digitalisasi ini bukan pengganti pelestarian fisik, tapi pelengkapnya. Ia menjadi benteng terakhir: sebuah salinan abadi yang tak bisa hancur oleh waktu, gempa, atau kecerobohan manusia. Dalam dunia yang serba cepat berubah, Borobudur kini tak lagi hanya berdiri di atas tanah—ia juga hidup di dalam ruang digital, siap untuk dikenang selamanya.















