Home Berita Internasional Bom IRA Hancurkan Belfast, 9 Tewas dalam Serangan Beruntun

Bom IRA Hancurkan Belfast, 9 Tewas dalam Serangan Beruntun

Sumbawanews.com,- Pada 21 Juli 1972, sembilan orang tewas dan 130 lainnya terluka dalam serangan bom beruntun yang dilancarkan Irish Republican Army (IRA) di Belfast, Irlandia Utara. Dalam waktu kurang dari satu jam, 19 bom meledak di berbagai titik strategis—dari Botanic Avenue hingga Salisbury Avenue, termasuk terminal bus Oxford Street dan kawasan pertokoan di Cavehill Road. Ledakan pertama terjadi saat mobil yang menabrak belakang terminal bus menewaskan enam orang, diikuti ledakan kedua di kendaraan yang dibajak yang memakan tiga korban jiwa. Tujuh dari korban tewas adalah warga sipil, sementara dua lainnya adalah tentara. Pecahan kaca dan puing berserakan di jalanan, memicu kepanikan massal, sementara isu bom susulan memperparah kekacauan.

Sebanyak 77 korban luka adalah perempuan, dan 53 lainnya laki-laki serta anak-anak. IRA sempat menanam lebih banyak bom, tetapi sebagian berhasil dinetralisir, menyelamatkan nyawa tambahan. Kelompok itu kemudian menyalahkan pasukan keamanan atas gagalnya penanganan peringatan sebelumnya. Serangan ini, yang dikenal sebagai Bloody Friday, dianggap sebagai serangan paling brutal di Belfast sejak Blitz 1941. Menteri Luar Negeri Irlandia Utara waktu itu, William Whitelaw, menyebutnya sebagai “serangan sembarang terhadap pria, wanita, dan anak-anak yang tak bersalah.” Sepuluh hari setelahnya, 18 orang lagi tewas dalam serangan terpisah.

Pada 31 Juli 1972, Angkatan Darat Inggris melancarkan Operasi Motorman, mengerahkan sekitar 4.000 tentara untuk membersihkan kawasan-kawasan yang dikuasai kelompok paramiliter republik di Belfast dan Londonderry. Dalam operasi ini, dua remaja ditembak mati di Derry, sementara sembilan orang tewas dalam serangan bom IRA lainnya di Claudy, County Londonderry. Bertahun-tahun kemudian, pemimpin IRA Sean MacStiofain mengakui tujuan serangan itu adalah menimbulkan kerugian finansial, namun menolak bertanggung jawab atas korban sipil. Pada 1996, Gerry Adams, presiden Sinn Féin saat itu, mengakui IRA telah melakukan kesalahan dengan meledakkan banyak bom dan menyatakan penyesalan atas jatuhnya korban sipil. Pada 2002, dalam peringatan ke-30 Bloody Friday, IRA secara resmi meminta maaf kepada korban sipil atas kampanye kekerasannya.

Previous articleGuardiola Didekati FIGC untuk Latih Timnas Italia
Next articleDPRD Bali Tekankan Pansus TRAP Tetap Berjalan Meski Golkar Tarik Anggota