Home Berita Nasional BMKG Waspadai Likuefaksi Pasca-Gempa M6,7 di Palu

BMKG Waspadai Likuefaksi Pasca-Gempa M6,7 di Palu

Sumbawanews.com,- Gempa berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6), memicu kekhawatiran akan terulangnya bencana likuefaksi—fenomena tanah berubah menjadi seperti cairan akibat guncangan—yang pernah menelan ribuan korban pada 2018. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, meskipun kekuatan gempa kali ini lebih rendah dari kejadian lima tahun lalu, wilayah-wilayah dengan kondisi tanah berpasir dan tingkat air tanah tinggi tetap berisiko.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam konferensi pers di Jakarta, menekankan bahwa likuefaksi tidak terjadi secara merata, melainkan terbatas pada zona geologis tertentu. “Kita tahu bahwa pada 2018, beberapa kawasan di Palu mengalami likuefaksi hebat. Kali ini, meski gempanya lebih kecil, potensi itu tetap ada—terutama di daerah rawan seperti pinggiran sungai, lahan reklamasi, atau tanah bekas rawa,” ujarnya. Ia berharap dampaknya tidak separah sebelumnya, namun meminta masyarakat tetap waspada, terutama di kawasan yang pernah mengalami kerusakan serius pada masa lalu.

Hingga siang hari, BMKG belum menerima laporan resmi tentang terjadinya likuefaksi. Namun, kerusakan struktural telah tercatat di sejumlah titik strategis: kantor Bupati Sigi, auditorium Universitas Tadulako, Hotel Santika, Hotel Best Western, Toko Star Kitchen, serta sejumlah rumah warga di Kabupaten Parigi Moutong. Kerusakan ini diklasifikasikan sebagai “sedang” dan bersifat nonstruktural, artinya bangunan tidak runtuh total tetapi mengalami retak, miring, atau kerusakan pada elemen non-penopang.

Teguh Rahayu, Direktur Seismologi Teknik BMKG, menjelaskan bahwa data sementara berasal dari laporan UPT BMKG Palu dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah. “Belum ada laporan korban jiwa, tapi kerusakan infrastruktur menunjukkan bahwa gempa ini cukup kuat untuk mengganggu stabilitas bangunan, terutama yang tidak memenuhi standar tahan gempa,” katanya.

Gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar Sausu, sesar aktif yang memotong wilayah Palu dan dikenal sebagai sumber utama gempa dangkal di kawasan itu. BMKG mencatat hingga pukul 12.00 WIB, telah terjadi 42 gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 4,8. Guncangan berulang ini memperbesar risiko kerusakan lanjutan, terutama pada bangunan yang sudah retak.

Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati bangunan yang mengalami kerusakan, menjauhi tepi sungai atau area berpasir, serta tetap mengikuti informasi resmi dari otoritas setempat. BMKG juga terus memantau pergerakan tanah dan tingkat air tanah melalui jaringan sensor geofisika di sekitar Palu.

Dengan memori traumatis gempa dan tsunami 2018 yang masih melekat, kewaspadaan masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman tersembunyi seperti likuefaksi—bencana yang tidak terlihat sampai tanahnya benar-benar “menelan” segalanya.

Previous articleXbox Putus Tali dengan Studio Legendaris
Next articleIndonesia Ditantang Jadi Pusat Peradaban Islam Modern
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.