Home Serba Serbi Tekno Xbox Putus Tali dengan Studio Legendaris

Xbox Putus Tali dengan Studio Legendaris

Sumbawanews.com,- Kabar guncang menghantam dunia game: Microsoft Xbox dikabarkan akan menutup atau melepas tiga studio pengembang game ikonik—Ninja Theory, Double Fine, dan Compulsion Games—dalam rangka restrukturisasi besar-besaran di bawah naungan Xbox Game Studios. Keputusan ini memicu kekhawatiran luas di kalangan penggemar dan karyawan, mengingat ketiga studio ini pernah melahirkan karya-karya bernilai seni tinggi dan berdampak mendalam pada industri.

Ninja Theory, yang dikenal sebagai pencipta seri Hellblade—terutama Hellblade II yang baru saja dipamerkan di Xbox Summer Game Fest 2026—telah menerima notifikasi resmi tentang rencana penutupan. Ironisnya, baru beberapa hari sebelumnya, tim pengembangnya memperkenalkan proyek baru yang dijadwalkan rilis pada 2027. Kini, masa depan game tersebut tergantung pada keberhasilan negosiasi untuk menemukan pembeli yang bersedia mengakuisisi studio ini agar tetap beroperasi.

Di sisi lain, Double Fine—didirikan oleh legenda game Tim Schafer pada 2000—juga berada di ambang kehancuran. Studio yang melahirkan klasik seperti Psychonauts, Brütal Legend, dan Broken Age kini berupaya membeli kembali independensinya dari Microsoft. Jika berhasil, ini akan menjadi kisah bangkitnya studio legendaris dari bayang-bayang korporasi raksasa.

Sementara itu, Compulsion Games, pengembang The Outer Worlds dan We Happy Few, juga belum memiliki kepastian. Meski belum ada pernyataan resmi dari Microsoft, sumber di Bloomberg menyebut ketiga studio ini berada dalam daftar prioritas pemangkasan, sebagai bagian dari strategi “Next 100 Days: Xbox Reset” yang diumumkan CEO Xbox Asha Sharma dan Chief Content Officer Matt Booty.

Dalam memo tersebut, Microsoft mengakui bahwa ekspansi berlebihan dalam mengelola jaringan studio justru menyebabkan alokasi dana tidak efisien. Franchise-franchise besar terlalu tersebar, sementara tekanan biaya perangkat keras dan kebutuhan untuk fokus pada lima tahun ke depan memaksa perusahaan memilih antara mempertahankan atau melepaskan aset-aset non-strategis.

Kabar ini muncul di tengah gelombang PHK massal yang telah memengaruhi ribuan karyawan di divisi game Microsoft sejak tahun lalu. Bukan hanya tiga studio itu yang terancam—beberapa studio lain di bawah payung Xbox Game Studios, termasuk id Software dan Obsidian, juga disebut tengah menjalani proses peninjauan ulang.

Namun, di tengah kekacauan ini, Microsoft justru memperkenalkan Xbox Series X25 Limited Edition—konsol edisi khusus yang merayakan 25 tahun keberadaan Xbox. Dengan desain transparan berwarna hijau klasik, logo “X” yang menyala, dan kontroler bernuansa nostalgia, konsol ini jelas dirancang untuk membangkitkan emosi para gamer lama. Tapi bagi banyak pengamat, simbolisme ini terasa ironis: sementara perusahaan merayakan sejarahnya, ia justru melepaskan sebagian dari fondasi kreatif yang membuat sejarah itu berarti.

Xbox Series X25 akan rilis pada November 2026, dengan harga dan ketersediaan yang masih dirahasiakan. Sementara itu, nasib Ninja Theory, Double Fine, dan Compulsion Games masih menunggu keputusan akhir—apakah mereka akan menjadi korban dari logika bisnis, atau justru menjadi simbol kebangkitan kembali dari independensi kreatif.

Previous articlexAI Dapat Dukungan Departemen Justisia dalam Sengketa Polusi Data Center
Next articleBMKG Waspadai Likuefaksi Pasca-Gempa M6,7 di Palu
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.