Home Berita Nasional Berkurban Tanpa Batas di Pulau Buru

Berkurban Tanpa Batas di Pulau Buru

Sumbawanews.com,- Rintik hujan menyambut kedatangan kami di bibir Sungai Waigereng, jantung desa terpencil di Pulau Buru, Maluku. Malam itu, sekitar pukul 22.00, keheningan hanya terpecah oleh aliran air jernih yang memisahkan dua kampung—Wamana Lama dan Wamana Baru. Tak ada lampu jalan, tak ada sinyal yang stabil, tapi ada suara takbir yang samar-samar mengalir dari balik pepohonan, menandai malam Idul Adha.

Di sini, di ujung timur Nusantara, sejarah kelam tak lagi mendefinisikan identitas. Lima puluh tahun lalu, Pulau Buru dikenal sebagai tempat pembuangan ribuan tahanan politik. Kini, ia menjadi rumah bagi masyarakat yang hidup berdampingan—muslim, Kristen, dan penganut kepercayaan lokal—dalam satu harmoni yang jarang ditemukan di tempat lain.

Tahun ini, tiga ekor sapi kurban tiba di Desa Wamana Baru. Dua dari Dompet Dhuafa, satu dari sebuah pesantren kecil. Penyembelihan berlangsung sederhana, tanpa kerumunan besar, tanpa megahnya alat modern. Panitia hanya beberapa orang, tapi semangat gotong royong menggantikan kekurangan sumber daya. Yang mengejutkan? Warga nonmuslim ikut membantu—mengikat kaki hewan, menyalurkan air, bahkan membantu membagikan daging.

“Kami tidak membedakan siapa yang menerima,” kata Gusti Waemese, salah satu panitia. “Ini bukan daging untuk muslim saja. Ini hadiah dari Tuhan untuk semua yang lapar.”

Daging yang sudah dipotong dibagikan ke setiap rumah—tanpa pengecualian. Tak ada acara masak bersama di lapangan, tak ada pesta besar. Setiap keluarga membawa pulang porsi mereka, lalu mengolahnya di dapur masing-masing. Ada yang baru mualaf, ada yang masih mempertahankan tradisi animisme, tapi semua menyantap daging itu dengan rasa syukur yang sama.

Mama Anita, pendatang dari luar kampung yang kini menetap selama dua dekade, mengenang masa lalu. “Dulu, sapi hanya untuk dijual. Harganya tinggi, tapi tak pernah kami makan. Uangnya dipakai untuk beli beras, obat, atau sekolah anak.” Kini, dengan bantuan kurban yang rutin sejak 2022, daging sapi bukan lagi kemewahan, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di kampung ini, jaringan internet masih menjadi barang langka. Anak-anak lebih sering bermain bola di jalan tanah daripada bermain ponsel. Silaturahmi terjalin lewat obrolan di teras rumah, bukan lewat pesan WhatsApp. Dan di tengah keterbatasan itu, kebaikan justru tumbuh subur.

La Januri, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Maluku, mengaku bahwa tahun ini, 180 sapi dan 10 kambing disalurkan ke seluruh wilayah Maluku. Tapi ia mengakui, masih banyak pulau-pulau kecil yang belum terjangkau. “Idealnya, butuh seratus ekor sapi hanya untuk memenuhi permintaan pedalaman. Kami masih jauh dari cukup.”

Namun, yang lebih penting dari jumlah hewan kurban adalah maknanya. Di Pulau Buru, kurban bukan sekadar ritual keagamaan. Ia menjadi simbol persatuan—bukti bahwa kebaikan tak mengenal agama, suku, atau latar belakang sejarah.

Di sebuah rumah kecil di ujung desa, seorang ibu Kristen membagikan daging sapi kepada tetangganya yang beragama Islam. “Kami makan bersama, doa pun berbeda. Tapi hati kami sama,” katanya sambil tersenyum.

Di tengah dunia yang sering dibelah oleh perbedaan, Pulau Buru memberi satu pelajaran sederhana namun mendalam: ketika kita berbagi daging, kita juga berbagi kemanusiaan.

Previous articleTelkomsel Rilis Paket Nonton Piala Dunia 2026, Terpopuler di Tekno
Next articleKuwait Gagalkan Serangan Drone Iran ke Pangkalan AS
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik