Sumbawanews.com,- Militer Israel kehilangan komandan dan tiga prajuritnya dalam serangan Hizbullah di Lebanon selatan, menjadi pukulan beruntun bagi satuan yang dikenal sebagai pelaku kekejaman terhadap gadis Palestina, Hind Rajab.
Beirut – Batalyon 52 Brigade Lapis Baja 401, unit militer Israel yang menjadi sorotan global karena terlibat dalam pembunuhan brutal terhadap bocah perempuan Palestina berusia enam tahun, Hind Rajab, kini menjadi sasaran balasan mematikan. Komandan mereka, Letkol Dor Ben Shimchon, tewas bersama tiga prajurit lain dalam serangan drone atau senjata berbasis rudal yang menargetkan tank Merkava 4 di dekat Kfar Tibnit, Lebanon selatan, pada Jumat malam.
Insiden ini terjadi hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata sementara antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku. Militer Israel mengonfirmasi kematian Ben Shimchon, yang baru mengambil alih komando batalyon dua bulan lalu setelah pendahulunya terluka parah dalam pertempuran sebelumnya. Kematian komandan ini bukan sekadar kehilangan personal—ia melambangkan semakin memburuknya situasi operasional bagi unit yang telah menjadi simbol kekejaman perang di Gaza.
Batalyon 52 menjadi terkenal setelah rekaman video yang viral memperlihatkan Hind Rajab, yang terjebak di dalam mobil keluarganya yang hancur akibat serangan udara Israel di Tel al-Hawa, Gaza, pada Januari 2024. Dalam panggilan telepon terakhirnya yang memilukan, gadis kecil itu memohon tolong sambil dikelilingi jenazah ibu, saudara, dan kerabatnya. Ambulans yang dikirim untuk menyelamatkannya tidak pernah sampai—dua paramedis yang berada di dalamnya juga tewas ditembak.
Penyelidikan independen oleh Hind Rajab Foundation, bersama para analis forensik dan organisasi media internasional, mengidentifikasi unit-unit dari Batalyon 52 sebagai pelaku langsung dalam serangan tersebut. Laporan-laporan itu, yang didukung oleh citra satelit, jejak digital, dan rekaman video, menjadi dasar bagi upaya hukum di Pengadilan Kriminal Internasional untuk menuntut para perwira dan prajurit yang terlibat. Unit ini bahkan dijuluki “Kekaisaran Vampir” oleh para aktivis HAM, merujuk pada kekejaman sistematis yang mereka lakukan terhadap warga sipil.
Kini, di Lebanon selatan, balasan datang dengan kecepatan dan presisi yang tak terduga. Serangan Hizbullah yang menewaskan empat tentara Israel—termasuk komandan tertinggi Batalyon 52—dilaporkan sebagai salah satu operasi paling sukses di wilayah itu dalam beberapa bulan terakhir. Media Israel menyebutnya sebagai kemunduran militer paling berdampak sejak konflik memanas kembali di perbatasan.
Tidak hanya kehilangan personel, Batalyon 52 juga kehilangan reputasi. Satuan yang sebelumnya dianggap sebagai “palu penindas” di Gaza kini dianggap sebagai sasaran empuk oleh gerilyawan Hizbullah yang terus mengembangkan strategi perang asimetris. Drone buatan lokal yang mampu menembus pertahanan tank Merkava menjadi senjata andalan, mengubah keseimbangan kekuatan di garis depan.
Kematian Ben Shimchon bukanlah insiden terpisah. Ini adalah bagian dari pola yang semakin jelas: setiap kekejaman di Gaza berbalas dengan serangan balik di Lebanon. Dan bagi banyak pihak, ini bukan sekadar balas dendam—tapi hukum alam perang: kebrutalan yang tak terbendung akan selalu menemui titik baliknya.
Batalyon 52, yang pernah menjadi simbol kekuatan militer Israel, kini menjadi simbol lain: bahwa tidak ada satuan yang kebal terhadap konsekuensi.















