Sumbawanews.com,- Kawasan Dago Atas, Bandung, menjadi saksi keganasan seorang pria yang mengaku bernama Demon, memaksa pengendara mobil berpelat nomor B untuk membayar uang “perlindungan” dalam sebuah aksi premanisme yang terekam kamera dan viral di media sosial. Aksi itu terjadi pada Sabtu, 23 Mei 2026, di tengah euforia kemenangan Persib Bandung usai menyabet gelar juara Super League 2025/2026.
Dalam video yang beredar, pria tanpa baju itu hanya mengenakan syal di leher, berdiri di samping mobil korban sambil mengetuk kaca jendela. Ia menanyakan asal daerah korban, lalu langsung meminta uang dengan dalih agar perjalanan “aman”. Ketika permintaannya tidak langsung dipenuhi, ia mengancam: “Tambahin… tambahin… mau hancur di depan, udah koordinasi sama Demon.” Nominal yang diminta pun diserahkan sepenuhnya kepada kehendaknya: “Terserah berapa aja, Rp50 ribu, terserah aja.”
Kasus ini langsung menjadi sorotan publik. Polisi dari Polsek Coblong segera bergerak. Berdasarkan jejak digital dan keterangan saksi, pelaku berhasil diamankan beberapa hari setelah kejadian. Saat dibawa masuk ke ruang pemeriksaan, wajahnya tertunduk, tak lagi garang seperti di video.
Kapolsek Coblong, Kompol Riki Erickson, mengungkapkan bahwa motif utama pelaku bukanlah kejahatan sistematis, melainkan dampak dari euforia berlebihan. “Pelaku dan sejumlah rekan lainnya sedang dalam pengaruh minuman keras saat itu. Mereka ingin dapat uang tambahan untuk beli minum lagi,” ujar Riki.
Pelaku diduga merupakan oknum suporter Persib yang ikut merayakan kemenangan tim kesayangan di sekitar Dago. Dalam kondisi mabuk dan emosi tak terkendali, ia memanfaatkan kerumunan dan suasana riuh untuk melakukan pemerasan—sebuah ironi di tengah semangat kebersamaan yang seharusnya menghiasi pesta kemenangan.
Kini, pelaku menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Polisi juga sedang mendalami apakah ada jaringan atau kelompok lain yang terlibat dalam praktik serupa di kawasan tersebut. Kasus ini menjadi peringatan keras: euforia boleh meriah, tapi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan hukum dan merugikan sesama.
Aksi “Bang Jago” yang sempat jadi bahan candaan di media sosial kini berubah menjadi pelajaran serius tentang bahaya kekerasan yang bersembunyi di balik kegembiraan.















