Sumbawanews.com,- Perundingan panjang antara Amerika Serikat dan Iran berbuah kesepakatan bersejarah. Kedua negara akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Swiss pada Jumat, 19 Juni, mengakhiri ketegangan bersenjata yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesepakatan ini dirumuskan setelah mediasi intensif oleh Qatar, dengan dukungan signifikan dari Arab Saudi dan Turki.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa MoU mencakup pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran, serta komitmen bersama untuk menjadikan Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran bebas bea masuk. Dalam wawancara eksklusif dengan *The New York Times*, Trump menegaskan bahwa keputusan ini bukan hanya soal perdamaian, tetapi juga penyelamatan nyawa. “Jika perang berlanjut, Israel tidak akan bertahan dua jam,” ujarnya, merujuk pada kemampuan militer Iran yang kini mendekati ambang senjata nuklir.
Di sisi Iran, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) secara resmi mengonfirmasi finalisasi teks MoU pada 15 Juni malam, setelah mendapat persetujuan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei. Pernyataan resmi SNSC menekankan bahwa kesepakatan ini merupakan hasil dari komitmen rakyat Iran dan keteguhan pasukan bersenjata, bukan kekalahan atau kelemahan.
Kesepakatan ini juga diharapkan membuka jalan bagi pencairan dana Iran yang selama ini dibekukan di berbagai perbankan internasional. Selain itu, kedua pihak sepakat menghentikan semua bentuk konflik bersenjata, termasuk operasi militer di Lebanon, yang selama ini menjadi titik panas regional.
Namun, jalan menuju perdamaian nyaris terputus oleh keengganan Israel. Trump mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu hampir menggagalkan kesepakatan dengan menolak keras penghentian perang. “Dia orang yang sangat sulit,” kata Trump, menambahkan bahwa Netanyahu terus mendorong serangan terhadap Lebanon meski diplomasi sudah berjalan.
Dalam pernyataan yang mengejutkan, Trump menyatakan bahwa Israel seharusnya berterima kasih atas upaya AS menghentikan konflik. “Tanpa intervensi kami, Israel akan hancur dalam hitungan jam jika Iran memutuskan untuk membalas dengan kekuatan penuh,” tegasnya, menggarisbawahi ancaman nuklir yang semakin nyata.
Meski rincian teknis MoU belum dirilis secara resmi, para pengamat memprediksi kesepakatan ini akan mengubah peta keamanan Timur Tengah. Pemulihan hubungan diplomatik antara Washington dan Teheran, yang sempat putus selama lebih dari satu dekade, bisa menjadi titik balik bagi stabilitas regional—sekaligus ujian besar bagi aliansi tradisional AS di Timur Tengah.

















