Sumbawanews.com,- Arema FC resmi merekrut kiper Syahrul Trisna dari Borneo FC Samarinda, memperkuat lini belakang tim dengan tiga penjaga gawang lokal untuk musim depan. Kedatangan Syahrul, yang diumumkan pada Selasa, 23 Juni 2026, menambah daftar kiper andalan Singo Edan bersama Adi Satryo dan Gianluca Pandeynuwu—dua nama yang sudah dikenal di kancah Liga 1 dan pernah membela Timnas Indonesia di era Shin Tae-yong.
Ketiganya kini menjadi pilar utama posisi kiper di bawah asuhan manajemen Arema, yang sengaja memilih untuk tidak mengandalkan pemain asing di posisi penjaga gawang. Keputusan ini menjadi langkah strategis di tengah tren sebagian besar klub Super League yang masih mengandalkan kiper impor, akibat aturan yang memperbolehkan hingga 11 pemain asing per tim.
“Kami menilai Adi Satryo dan Gianluca memiliki kualitas teknis dan mentalitas yang matang. Kehadiran Syahrul menambah kedalaman dan persaingan sehat di posisi kiper, yang justru akan meningkatkan performa tim secara keseluruhan,” ujar General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, dalam pernyataan resmi klub.
Syahrul, yang pernah bersaing ketat dengan Nadeo Argawinata di tim nasional U-23, dikenal memiliki refleks cepat dan kemampuan membaca permainan yang tajam. Ia bergabung setelah menunjukkan konsistensi di Borneo FC, termasuk saat membantu tim meraih hasil positif di laga kandang musim lalu. Adi Satryo, yang pernah menjadi pilihan utama di musim 2024/2025, dan Pandeynuwu, yang sempat mencuri perhatian sebagai kiper muda berbakat, tetap dipertahankan sebagai bagian dari rencana jangka panjang klub.
Di musim lalu, hanya empat kiper lokal yang tampil lebih dari 30 laga di Liga 1: Nadeo Argawinata (34 laga), Cahya Supriadi (32), Teja Paku Alam (31), dan Aqil Savik (30). Dengan keputusan Arema ini, klub menjadi salah satu dari sedikit tim yang secara eksplisit memprioritaskan pengembangan bakat lokal di posisi krusial tersebut.
Langkah ini tidak hanya menyiratkan kepercayaan manajemen terhadap potensi pemain dalam negeri, tetapi juga menjadi sinyal kuat bahwa Arema ingin membangun identitas tim yang berakar pada kebanggaan lokal—bukan sekadar mengejar nama besar dari luar negeri. Di tengah gempuran transfer pemain asing yang kian marak, keberanian Arema memilih tiga kiper lokal bisa jadi menjadi titik balik dalam diskusi tentang keberlanjutan sepak bola Indonesia.















