Sumbawanews.com,- Sejak sembilan hari lalu, rumah Mutfiana—dipanggil Fia—di Seyegan, Sleman, menjadi lokus misteri yang tak kunjung terpecahkan. Api muncul tanpa sebab, tanpa sumber nyala, tanpa pola yang bisa diprediksi. Setiap kali tim ahli mengira kejadian itu berakhir, ia kembali menyala—dengan keteguhan yang mengejutkan.
Pada Senin (1/6), para peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kembali datang. Mereka datang bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai detektif ilmiah yang mencari jejak api yang tak punya tuan.
“Njedul meneh iki!” teriak Fia dari dalam rumah—api muncul lagi. Tim langsung berlari ke kamar gelap. Di sana, sebuah kaos hitam yang digantung di dinding telah menyala. APAR segera dikerahkan. Api padam. Tapi hanya 24 menit kemudian, asap kembali mengepul dari kaos yang sama—kali ini lebih tebal, lebih mengancam. Tim harus memadamkannya dengan cara menginjak-injaknya.
Ini bukan kejadian pertama. Ini yang ke-73.
Sejak awal kejadian, Fia dan keluarganya telah mencatat 65 titik api yang muncul di berbagai sudut rumah. Titik-titik itu tak memilih lokasi acak—mereka lebih suka menyerang bahan mudah terbakar: karpet, sarung bantal, jaket, kardus. “Rata-rata kain, ya yang mudah kebakar lah,” ujar Fia, sambil menunjuk tumpukan sisa-sisa yang hangus.
Yang paling menakutkan? Api muncul saat ruangan kosong. Saat semua orang sedang berada di luar, saat tidak ada yang menatap. Bahkan ketika tim peneliti sengaja memancingnya—dengan memasang alat, memantau suhu, mengatur ulang barang—api justru muncul di luar jangkauan pengamatan.
“Stabil malah,” kata Fia. Rata-rata tujuh hingga sembilan kali sehari. Tak ada penurunan. Tak ada jeda. Hanya kejadian yang berulang, seperti jam dinding yang berdetak tanpa henti.
Akibatnya, keluarga Fia terpaksa mengungsi ke bangunan utara rumah. Sebagian besar barang telah dievakuasi. Hanya sisa-sisa yang tersisa: satu celana yang masih utuh, menurut ayah Fia, Agus. “Katok telu gari siji,” katanya sambil tertawa kecil. Tiga celana habis, satu yang tersisa.
Di balik ketakutan, ada harapan. Karena ini bukan lagi soal hantu atau kutukan. Ilmuwan telah datang.
Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM, yang dipimpin Alva Edy Tontowi, menemukan jejak gas hidrogen (H₂) di lokasi kejadian—terutama di ruangan tempat kaos hitam terbakar dua kali. Konsentrasinya tinggi. Sangat tinggi. Dan ini bukan kebetulan.
“Ini fenomena *spontaneous ignition*,” jelas Alva. Pembakaran spontan. Bukan karena korek api, bukan karena korsleting. Tapi karena bahan itu sendiri memanas hingga mencapai titik nyala tanpa sumber eksternal.
Guru Besar Ilmu Vulkanologi UGM, Agung Harijoko, memperkuat temuan itu. Gas hidrogen, menurutnya, adalah “suspect utama.” Tapi pertanyaan besar masih menggantung: dari mana asalnya?
Air dari beberapa titik di rumah Fia telah diambil untuk dianalisis. Apakah ada reaksi kimia bawah tanah? Apakah ada interaksi antara material bangunan, kelembapan, dan mikroorganisme yang menghasilkan gas? Atau ada proses geokimia yang belum pernah tercatat di lingkungan rumah tangga?
Tim juga mengundang Iswandi dari Teknik Elektro UGM untuk memastikan tak ada kaitan dengan kelistrikan. Hasilnya jelas: tidak ada sumber tegangan tinggi, tidak ada tower listrik di sekitar, tidak ada gangguan arus. Titik api muncul secara sporadis—tidak berurutan, tidak berpola listrik. “Kalau ini listrik, pasti ada pola. Tapi ini tidak. Ini gas. Dan gas ini tidak butuh pemantik,” tegas Iswandi.
Kini, rumah Fia bukan lagi sekadar tempat tinggal. Ia menjadi laboratorium alam yang tak biasa. Di sini, ilmu pengetahuan bertemu dengan misteri yang nyata—bukan khayalan, tapi asap, panas, dan bara yang membakar kain, mengusir keluarga, dan menantang logika.
Fia dan keluarganya tetap waspada. Setiap jam, setiap menit, ada yang berjaga. Karena api itu belum selesai. Ia belum berbicara. Ia belum memberi jawaban.
Hanya satu yang pasti: di balik setiap kepulan asap, ada rahasia kimia yang sedang menunggu untuk diungkap. Dan dunia ilmiah sedang mendengarkan.















