Sumbawanews.com,- London – Andy Burnham, mantan menteri dalam kabinet Tony Blair dan Gordon Brown, kini menjadi salah satu figur paling menonjol dalam kancah politik Inggris sebagai kandidat kuat pemimpin Partai Buruh dan calon perdana menteri berikutnya. Dengan latar belakang sebagai politisi berpengalaman selama lebih dari dua dekade, Burnham tidak hanya dikenal karena kecerdasan strategisnya, tetapi juga karena kemampuannya menyentuh hati rakyat biasa.
Lahir di Leigh, Greater Manchester, pada 1970, Burnham memulai karier politiknya sebagai anggota parlemen pada usia 30 tahun. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan pada 2007–2009, di mana ia menjadi tokoh kunci dalam reformasi sistem kesehatan nasional (NHS) yang kini menjadi fondasi utama kebijakan publik Inggris. Meski sempat menghadapi kritik atas kebijakan pemotongan anggaran, ia tetap dihormati karena keberaniannya mengakui kesalahan dan berkomitmen memperbaiki sistem dari dalam.
Setelah meninggalkan parlemen pusat pada 2017, Burnham beralih ke pemerintahan lokal dan terpilih sebagai Mayor Greater Manchester—jabatan yang ia pegang hingga kini. Di posisi ini, ia memimpin transformasi infrastruktur transportasi, memperluas akses perawatan kesehatan mental, dan membangun program pelatihan keterampilan bagi kaum muda yang putus sekolah. Pendekatannya yang pragmatis dan berbasis komunitas membuatnya dijuluki “PM yang bisa dijangkau” oleh banyak warga.
Ketika Partai Buruh mengalami kekalahan telak dalam pemilu 2019, Burnham menjadi salah satu suara paling vokal dalam upaya mereformasi partai. Ia menolak narasi politik yang terlalu ideologis dan justru menyerukan kembali ke akar: keadilan sosial, solidaritas, dan pelayanan publik yang nyata. Pandangannya ini kini menjadi arus utama dalam kampanye Partai Buruh menjelang pemilu mendatang.
Burnham dikenal karena gaya komunikasinya yang tulus—sering kali berbicara tanpa teks, berjalan kaki di pasar tradisional, dan duduk berbincang dengan pekerja pabrik atau pensiunan. Ia tak pernah menyembunyikan latar belakangnya sebagai anak dari keluarga pekerja, dan justru menjadikannya kekuatan: “Saya tidak datang dari istana,” katanya dalam sebuah pidato tahun lalu. “Saya datang dari rumah yang listriknya sering diputus karena tagihan tak terbayar. Itu yang membuat saya tahu apa yang sebenarnya dirasakan rakyat.”
Dengan popularitas yang terus naik dan dukungan kuat dari serikat buruh, pemuda, dan kaum profesional muda, Burnham kini dianggap sebagai ancaman serius bagi Partai Konservatif yang tengah terpecah. Ia belum secara resmi mengumumkan pencalonannya sebagai pemimpin partai, tetapi semua indikator menunjukkan bahwa ia adalah calon yang paling siap—baik dari segi pengalaman, visi, maupun kredibilitas—untuk memimpin Inggris ke masa depan yang lebih adil.















