Sumbawanews.com,- Mauricio Pochettino, pelatih tim nasional sepak bola AS, tak hanya menargetkan lolos ke babak 16 besar di Piala Dunia 2026 — ia dan legenda sepak bola Amerika, Alexi Lalas, justru mengakhiri pengumuman susunan pemain dengan kalimat provokatif: “Why not us?” Mengapa bukan kita?
Pernyataan itu bukan sekadar semangat patriotik. Ia adalah tantangan terbuka terhadap sejarah: tim nasional AS belum pernah mencapai semifinal sejak 1930, dan hanya sekali — pada 2002 — berhasil menang lebih dari satu pertandingan dalam satu edisi Piala Dunia modern. Dengan rekor kemenangan hanya tiga kali sejak 2002, dan catatan buruk melawan tim Eropa (3 menang, 14 kalah, 7 seri), ambisi untuk memenangi trofi tampak seperti mimpi di tengah kenyataan.
Namun, Pochettino percaya bahwa mimpi itu bisa jadi nyata. Ia menekankan budaya Amerika yang selalu mendorong hal-hal “mustahil”. Dan memang, ada alasan untuk optimis. Tim ini memiliki fondasi baru: fasilitas latihan senilai lebih dari $200 juta di Fayetteville, Georgia, yang didanai oleh Arthur Blank, pemilik Atlanta Falcons dan Atlanta United. Infrastruktur ini bukan sekadar kemewahan — ia simbol komitmen jangka panjang untuk menjadi kekuatan global.
Dalam susunan pemain, AS menampilkan keseimbangan antara pengalaman dan energi muda. Di belakang, Tim Ream, 38 tahun, menjadi tulang punggung pertahanan, didampingi Sergino Dest dan Antonee Robinson yang telah pulih dari cedera. Di tengah, Tyler Adams dari Bournemouth, Weston McKennie dari Juventus, dan Malik Tillman dari Bayer Leverkusen menjadi jantung permainan — semua tampil konsisten di liga top Eropa. Tapi semua mata tertuju pada Christian Pulisic, kapten sekaligus pemain paling berbahaya, yang perlu kembali ke bentuk terbaiknya setelah musim yang tidak stabil.
Di lini depan, Folarin Balogun, pencetak 13 gol bersama AS Monaco, menjadi harapan utama. Ricardo Pepi, yang mencetak lima gol dalam lima pertandingan terakhir bersama PSV Eindhoven, menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Sementara Haji Wright terlihat redup sejak Maret, membuat tekanan semakin besar pada para penyerang muda.
AS berada di Grup D bersama Paraguay, Australia, dan Turki — kelompok yang relatif terbuka. Menang di grup bisa berarti bertemu tim Eropa di babak 32 besar, yang berisiko tinggi. Tapi jika finis kedua, kemungkinan besar mereka akan menghadapi runner-up Grup G: Mesir, Iran, atau Selandia Baru — lawan yang lebih bisa diatasi. Itu adalah jalan pintas menuju babak 16 besar, yang menjadi target realistis.
Lolos ke perempat final? Itu akan membutuhkan empat kemenangan berturut-turut — pencapaian yang belum pernah diraih AS sejak 1930. Tapi dalam sepak bola, sejarah sering diubah oleh satu momen, satu gol, satu keputusan wasit. Dan kali ini, AS tidak hanya punya pemain berbakat — mereka punya keyakinan, fasilitas terbaik, dan pelatih yang tidak takut bermimpi besar.
Mungkin, “Why not us?” bukan sekadar slogan. Mungkin, itu adalah awal dari sebuah babak baru — bukan hanya dalam sejarah sepak bola Amerika, tapi dalam cara dunia memandangnya.















