Sumbawanews.com,- Pada September hingga Oktober 2026, Turki berhasil menguji coba senjata canggih pada drone tempur Bayraktar AKINCI, sementara Amerika Serikat mempercepat pengembangan pengganti MQ-9 Reaper akibat penurunan jumlah unit akibat pensiun dini dan kerugian operasional. Perkembangan ini memperdalam persaingan teknologi drone kelas berat antara dua kekuatan militer global, dengan AKINCI yang dirancang Baykar dan MQ-9 Reaper buatan General Atomics menjadi fokus utama.
AKINCI, yang berhasil menghantam sasaran menggunakan Morfoz Guidance Kit (MGK) dari Aselsan pada 9 Oktober 2026 di Teluk Saros, menunjukkan kemampuan serangan presisi setelah menjalani latihan Ateş Serbest-2026 di Polatlı, Ankara, pada 13 Oktober. Dua unit AKINCI dalam latihan itu tidak hanya menyerang dengan amunisi berpemandu, tetapi juga mendeteksi sasaran udara dan darat menggunakan radar MURAD AESA. Sementara itu, laporan Congressional Research Service per 23 September 2026 mengonfirmasi penyusutan inventaris MQ-9 Reaper dan rencana AS mengembangkan platform pengganti bernama Massed Modular Aircraft (MMA).
Dari segi dimensi, AKINCI memiliki bentang sayap 20 meter, panjang 12,2 meter, dan tinggi 4,1 meter, dengan berat lepas landas maksimum 6.000 kilogram—lebih berat dari MQ-9A yang memiliki berat maksimum 4.760 kilogram. Meski MQ-9A memiliki bentang sayap sedikit lebih panjang (20,1 meter), kapasitas muatannya lebih tinggi, mencapai 1.746 kilogram dibandingkan 1.500 kilogram pada AKINCI. Namun, sekitar 1.361 kilogram dari muatan MQ-9A adalah beban eksternal, sementara AKINCI dirancang untuk integrasi senjata dalam negeri Turki secara lebih fleksibel.
Dalam hal daya tahan, MQ-9A standar mampu terbang lebih dari 27 jam, dengan varian Extended Range mencapai 34 jam, jauh melampaui klaim AKINCI yang menyatakan lebih dari 20 jam—hingga 24 jam dalam konfigurasi tertentu. Ketinggian operasional MQ-9A juga lebih tinggi, mencapai 50.000 kaki, dibandingkan 40.000 kaki pada AKINCI. Kecepatan maksimum keduanya sama, sekitar 240 knot, tetapi kecepatan jelajah MQ-9A lebih tinggi (200 knot) dibanding AKINCI (150 knot). Jangkauan operasional AKINCI disebut hingga 6.000 kilometer, sementara MQ-9A memiliki jangkauan sekitar 1.000 mil laut—angka yang tidak langsung bisa dibandingkan karena perbedaan metode pengukuran.
Faktor biaya, ketahanan terhadap sistem pertahanan udara lawan, dan kapasitas produksi industri kini menjadi penentu utama dalam persaingan ini, bukan hanya spesifikasi teknis.















