Sumbawanews.com,- Peneliti mengembangkan sistem kecerdasan buatan yang mampu memperkirakan risiko kematian pasien kanker hanya berdasarkan foto wajah. Teknologi ini, bernama FAHR-Face, dilatih menggunakan lebih dari 40 juta gambar wajah dari berbagai kelompok usia dan etnis, dan menghasilkan dua alat analisis: FAHR-FaceAge untuk memperkirakan usia biologis, serta FAHR-FaceSurvival yang langsung menilai potensi kelangsungan hidup tanpa perlu menghitung usia terlebih dahulu. Hasil pengujian menunjukkan pasien dengan skor tertinggi pada FAHR-FaceSurvival memiliki risiko kematian lebih dari tiga kali lipat dibandingkan yang skornya terendah, bahkan setelah mempertimbangkan faktor klinis lainnya. Pasien yang tampak lima tahun lebih tua dari usia sebenarnya juga mengalami risiko kematian 21% lebih tinggi selama masa pemantauan rata-rata empat tahun.
Sistem ini fokus pada area wajah tertentu untuk masing-masing fungsi: FAHR-FaceAge mengandalkan kerutan di sekitar hidung, mulut, dahi, dan pelipis, sementara FAHR-FaceSurvival mengevaluasi area di bawah mata dan pangkal hidung. Peneliti juga menemukan hubungan antara kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan penggunaan narkoba dengan penampilan wajah yang secara biologis lebih tua. Model ini tetap konsisten meski foto diambil dalam kondisi pencahayaan, ekspresi, atau riasan berbeda.
Ahli onkologi radiasi Raymond Mak menyatakan teknologi ini dirancang untuk membantu dokter menilai kondisi fisik pasien sebelum merekomendasikan perawatan intensif seperti radioterapi atau operasi. Namun, hasil analisis tidak dimaksudkan sebagai prediksi pasti tentang kelangsungan hidup individu, melainkan sebagai indikator statistik pada kelompok pasien. Penggunaan luas teknologi ini masih memerlukan penelitian lanjutan dan validasi klinis di lingkungan rumah sakit.














