Sumbawanews.com,- Juventus sedang menghadapi krisis mendalam di awal musim 2026/2027, dengan sejumlah pemain kunci terpental akibat cedera dan aktivitas bursa transfer musim panas yang dinilai gagal memperkuat tim. Kapten Manuel Locatelli harus absen hingga akhir 2026 setelah menjalani operasi meniskus, menyusul cedera panjang yang dialami Khephren Thuram dan Kenan Yildiz. Selain itu, Andrea Cambiaso, Jeff Ekhator, Weston McKennie, Juan Cabal, dan Jeremie Boga juga tengah berjuang pulih dari masalah otot, memperparah kekurangan personel di bawah asuhan pelatih Luciano Spalletti. Legenda Juventus Marco Tardelli menilai situasi ini sebagai pukulan telak, terutama karena absennya Locatelli datang setelah kehilangan Yildiz, sambil menyoroti kegagalan manajemen dalam membangun skuad yang tangguh di bursa transfer.
Tardelli, yang pernah memperkuat Bianconeri di era kejayaan 1980-an, mengakui Spalletti sebagai pelatih brilian yang mampu menggali potensi maksimal pemain, tetapi menekankan bahwa keberhasilan seorang pelatih sangat bergantung pada kualitas skuad yang tersedia. “Spalletti adalah pelatih yang sangat bagus menurut saya. Namun, Anda harus memahaminya karena bersamanya Anda bisa memberikan banyak hal jika mengikutinya, dan itu tidak selalu mudah. Tentu saja, bursa transfer tidak membantunya,” ujar Tardelli dalam wawancara dengan Gazzetta. Ia menilai bahwa kegagalan memperkuat tim di musim panas justru membebani Spalletti di tengah tekanan hasil yang menurun.
Dengan jadwal pertandingan melawan Sassuolo pada 13 September 2026 yang semakin dekat, Spalletti dipaksa mencari solusi kreatif dari dalam skuad yang tersisa. Tardelli menekankan bahwa meski moral tim bisa tergerus dalam masa sulit, justru di sinilah energi tak terduga bisa muncul. “Terkadang moral tim menurun, tetapi harus juga dikatakan bahwa Anda dapat menemukan energi justru dalam kesulitan dan momen-momen sulit; energi yang mungkin tidak Anda duga sebelumnya,” tegasnya. Juventus kini berada di persimpangan: apakah akan bangkit dari kekalahan internal, atau terus terperosok karena keputusan manajerial yang salah di musim panas?















