Sumbawanews.com,- Ilya Espino de Marotta resmi menjabat sebagai administrator Terusan Panama pada Senin, 7 September 2026, menjadi perempuan pertama dalam sejarah yang memimpin jalur pelayaran strategis global itu. Mantan wakil administrator ini mengambil alih kepemimpinan dari Ricaurte Vasquez, di tengah tantangan krusial berupa kekeringan akibat El NiƱo dan proyek waduk senilai US$1,5 miliar untuk menjamin pasokan air. Terusan Panama, yang menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik serta mengelola hampir 3 persen perdagangan maritim dunia, sebelumnya hanya dipimpin tiga warga Panama sejak AS menyerahkan kendali pada 1999. Espino, insinyur perkapalan yang pernah memimpin perluasan terusan senilai US$5,25 miliar pada 2016, menekankan pentingnya operasi netral dan andal untuk mencegah pengguna global beralih ke rute alternatif.
Proyek waduk Sungai Indio, yang dijadwalkan selesai pada akhir 2031 atau 2032, menjadi prioritas utamanya. Waduk ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan air operasional terusan sekaligus menyediakan air bersih bagi separuh dari 4 juta penduduk Panama. Namun, rencana ini memicu protes dari sejumlah masyarakat setempat akibat relokasi dan dampak lingkungan. Di tengah tekanan iklim, otoritas terusan telah membatasi jumlah kapal harian yang melintas, memperdalam kekhawatiran atas keberlanjutan operasional.
Espino juga menghadapi ketegangan diplomatik akibat pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan mengambil kembali kendali terusan, menuduh adanya pengaruh China dan perlakuan tidak adil terhadap perusahaan pelayaran AS. Meski pengadilan Panama membatalkan rencana pengambilalihan pelabuhan oleh konsorsium Hong Kong, transaksi tersebut terhenti. Espino menegaskan bahwa tanggung jawabnya adalah memastikan efisiensi dan transparansi operasional terusan, sementara urusan diplomatik sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah Panama.















