Sumbawanews.com,- Riset terbaru dari F5 mengungkap bahwa 77 persen perusahaan kini menjadikan AI inference sebagai aktivitas utama, beralih dari tahap pelatihan model. AI inference merujuk pada proses menjalankan model AI yang sudah dilatih untuk membuat prediksi berdasarkan data baru. Laporan 2026 State of Application Strategy Report menyebut rata-rata perusahaan mengelola hingga tujuh model AI sekaligus, namun tantangan muncul dari infrastruktur pemantauan yang terfragmentasi dan penggunaan proxy mandiri yang tidak terintegrasi.
Untuk menjawab tantangan ini, F5 meluncurkan peningkatan signifikan pada F5 AI Gateway yang terintegrasi dalam F5 AI Security Platform. Platform ini menyediakan kendali terpadu melalui tiga fitur utama: Model Gateway untuk mengatur akses dan optimasi biaya token, MCP Gateway yang mengelola komunikasi antar agen AI dengan audit trail lengkap, serta AI Guardrails yang memblokir serangan prompt injection dan menyembunyikan data sensitif secara real-time. Fitur seperti smart routing, model tiering, dan semantic caching diklaim mampu mengurangi konsumsi token hingga 60 persen tanpa perlu mengubah aplikasi inti.
Kunal Anand, Chief Product Officer F5, menekankan bahwa setiap permintaan AI berdampak langsung pada biaya, keamanan, dan tata kelola. Tanpa visibilitas yang jelas, perusahaan kesulitan melacak pengguna dan tim yang mengonsumsi sumber daya token. Dengan platform terpadu, tim IT, keamanan siber, dan keuangan kini memiliki satu tampilan operasional tunggal untuk mengatur batas anggaran, kebijakan routing model, dan kontrol akses secara terpusat.
Gartner pun mengakui bahwa AI gateways telah menjadi komponen krusial dalam infrastruktur enterprise modern, mendukung akses yang aman, efisien, dan terkendali di lingkungan SaaS, hybrid, hingga multicloud. F5 juga menyiapkan solusi untuk sistem terisolasi demi memenuhi kebutuhan kedaulatan data di sektor yang tunduk pada regulasi ketat.















