Sumbawanews.com,- AfD memenangkan pemilu negara bagian Saxony-Anhalt pada 5 September 2026 dengan meraih 44,5 persen suara, menurut exit poll ARD, menjadikannya partai pertama sejak berakhirnya era Nazi yang berpeluang memerintah di Jerman. Partai yang dikenal anti-Islam dan pro-Israel itu mengalahkan Partai Kristen Demokrat pimpinan Kanselir Friedrich Merz yang hanya memperoleh 18,5 persen suara. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 76 persen, jauh di atas rata-rata pemilu negara bagian sebelumnya. Kandidat utama AfD, Ulrich Siegmund, menyebut kemenangan ini sebagai sejarah bagi negara tersebut.
Kemenangan AfD memicu kekhawatiran di Eropa, terutama di Prancis. Politisi oposisi Jean-Luc Mélenchon memperingatkan melalui platform X bahwa “sayap kanan jauh telah kembali di Jerman” dan menyebut hasil pemilu sebagai “bencana”, menolak rencana Jerman membentuk angkatan darat konvensional terbesar di Eropa. Meski partai ini kerap dikritik karena pernyataan antisemit dan revisionis Holocaust dari sejumlah tokohnya, AfD tetap dianggap mitra politik oleh beberapa pejabat Israel. Menteri Urusan Diaspora Israel, Amichai Chikli, pada Februari 2025 memuji AfD karena menginisiasi undang-undang pada 2019 untuk melarang gerakan BDS yang dianggap antisemit, serta mengusulkan pelarangan total aktivitas Hizbullah di Jerman.
Pemimpin AfD, Alice Weidel, dalam percakapan dengan Elon Musk pada Januari 2025, menyatakan partainya sebagai “satu-satunya pelindung bagi orang Yahudi” di Jerman, mengaitkan dukungan terhadap Israel dengan kampanye anti-imigrasi dan anti-Islam yang menjadi inti agenda partai. Namun, hingga kini belum jelas apakah AfD mampu membentuk koalisi pemerintahan di Saxony-Anhalt karena belum memperoleh mayoritas mutlak kursi.















