Sumbawanews.com,- Pertempuran antara Iran dan Amerika Serikat memanas kembali setelah AS menggempur lokasi pesta pernikahan di Kuhestak, Iran, pada Selasa (1/9/2026) malam, yang menewaskan empat orang—dua perempuan dan dua anak berusia 4 dan 16 tahun—serta melukai 68 lainnya. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan pada Rabu (2/9/2026) dini hari terhadap sejumlah negara sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk Kuwait dan Bahrain, tanpa melaporkan korban jiwa. Serangan itu juga menyasar Irak, di mana otoritas Kurdi menyatakan berhasil mencegat 10 drone bermuatan peledak di Erbil, dan Lebanon selatan, tempat Hizbullah meluncurkan dua drone ke arah pasukan Israel. Sebelumnya, AS menyerang fasilitas pertahanan udara, sistem radar, dan aset maritim Iran, termasuk peluncur roket di Selat Hormuz yang diduga akan digunakan untuk meletakkan ranjau. Iran mengklaim empat anggota Garda Revolusi dan 10 anggota Basij tewas dalam serangan AS, dengan total 108 orang terluka secara keseluruhan. Seorang pakar senjata menilai amunisi yang ditemukan di lokasi pesta pernikahan kemungkinan berasal dari senjata buatan AS, seperti JSOW atau SLAM-ER, meski Komando Pusat AS menolak berkomentar dan menyatakan sedang memeriksa laporan tersebut.















