Sumbawanews.com,- Pada Agustus 2026, Timnas Indonesia berhasil naik ke peringkat 118 dunia versi FIFA, meningkat 31 tingkat dari posisi 149 pada April 2023. Kenaikan ini menjadi bukti konsistensi perbaikan bertahap yang dibangun selama lebih dari tiga tahun, melalui tiga pelatih berbeda—Shin Tae-yong, Patrick Kluivert, dan John Herdman—yang masing-masing memberi kontribusi signifikan dalam proses transformasi skuad Garuda. Perubahan ini tidak hanya mencerminkan peningkatan performa di lapangan, tetapi juga perbaikan sistem pembinaan, strategi pertandingan, dan keberanian menghadapi lawan-lawan kuat.
Shin Tae-yong memulai gelombang perubahan saat menangani Timnas Indonesia pada April 2023. Dalam hampir dua tahun masa kepemimpinannya, ia berhasil membawa Indonesia naik dari peringkat 149 menjadi 127 pada Januari 2025, dengan lonjakan 22 peringkat. Setelahnya, Patrick Kluivert yang menangani tim dari Januari hingga Oktober 2025, mempertahankan tren positif dengan mendorong kenaikan empat peringkat menjadi 122. Di bawah arahan John Herdman sejak Januari 2026, Indonesia kembali naik empat peringkat lagi, hingga mencapai posisi 118 pada Agustus 2026.
Pengamat sepak bola Akmal Marhali menilai pencapaian ini patut diapresiasi, namun menekankan bahwa angka ranking bukan tujuan akhir, melainkan cermin dari konsistensi kualitas pertandingan dan keberlanjutan program. “Dari 149 ke 118 adalah kemajuan, tetapi pekerjaan rumah kita masih besar karena target berikutnya adalah masuk 100 besar dunia,” ujarnya. Ia menegaskan, kenaikan ini hasil akumulasi dari kebijakan federasi, kualitas pemain, dan keberanian menghadapi lawan yang lebih tinggi peringkatnya, bukan hanya kerja satu pelatih atau satu pertandingan.
FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi ujian berikutnya yang menentukan apakah tren positif ini bisa dipertahankan. Turnamen yang berlangsung pada akhir September hingga awal Oktober 2026 di Jakarta dan Bandung ini menempatkan Indonesia di Grup A bersama Malaysia, Singapura, dan Bangladesh—yang menggantikan India yang mundur. Meski bersifat regional, ajang ini tetap memberi poin ranking FIFA, sehingga setiap laga menjadi kesempatan strategis untuk memperkuat posisi di tangga dunia.
PSSI pun diharapkan lebih selektif menyusun kalender pertandingan ke depan, memilih lawan yang mampu meningkatkan kualitas tim sekaligus memberi peluang meraih poin ranking. Akmal menekankan, posisi 118 bukan akhir perjalanan, tapi pijakan untuk membangun sistem yang lebih berkelanjutan: dari kompetisi domestik yang lebih ketat, pembinaan usia muda yang terstruktur, hingga agenda internasional yang terencana. Target 100 besar dunia masih terbuka, tapi hanya bisa diraih dengan konsistensi, bukan sekadar satu turnamen.















