Sumbawanews.com,- Ahmad Ali, Ketua Harian PSI, mengaku tak pernah tahu berapa gaji yang diterimanya selama dua periode menjadi anggota DPR. Baginya, uang yang masuk ke rekening bukan tujuan, melainkan alat untuk membiayai kunjungan ke daerah pemilihan di Sulawesi Tengah—bahkan sering membengkak hingga dua kali lipat dari gaji resmi. “Kalau politik menjadi tempat mencari nafkah, sudah pasti salah,” tegasnya.
Bukan keberhasilan program yang ia pamerkan saat akhir masa jabatan, melainkan permohonan maaf terbuka di media sosial. Ia meminta masyarakat Sulawesi Tengah mengingatkan jika masih ada janji yang belum terpenuhi selama sepuluh tahun ia menjabat. Bagi Ahmad Ali, jabatan politik bukan sekadar mandat konstitusi, tapi amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
Setelah tak lagi duduk di parlemen, ia justru semakin intensif menekuni kegiatan sosial—fokus pada pendidikan dan keagamaan. Pengalaman pribadinya sebagai anak desa dari Wosu, Morowali, yang takut merantau ke Jakarta meski mampu secara finansial, menjadi dasar semangatnya. Ia takut bukan karena biaya, tapi karena tak punya sandaran di kota asing. “Saya masih membawa traumatik masa lalu,” ujarnya.
Karena itu, ia berkomitmen memastikan generasi muda Sulawesi Tengah tak lagi takut bermimpi besar. Melalui Yayasan Insan Cita Indonesia, ia menyediakan pesantren gratis bagi penghafal Al-Quran, beasiswa untuk jenjang sarjana, magister, hingga doktor, tanpa syarat ikut partai atau bekerja untuk kepentingannya. Hingga kini, 107 penerima manfaat telah didukung pendidikannya.
Di bidang keagamaan, ia telah memberangkatkan sekitar 700 imam masjid di Sulawesi Tengah untuk umrah dan membantu renovasi 200 masjid. Untuk keberlanjutan, ia mendirikan Ahmad Ali Center sebagai lembaga independen. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” katanya.















