Sumbawanews.com,- PSSI secara resmi menanggapi serangan siber terhadap bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, dan keluarganya, menyusul kekalahan 0-3 dari Vietnam dalam fase grup Piala AFF 2026. Serangan yang meluas di media sosial tak hanya menargetkan performa pemain berusia 22 tahun itu, tetapi juga merembet ke kehidupan pribadi dan orang terdekatnya. Federasi sepak bola Indonesia menilai tindakan ini telah melampaui batas kritik sehat dan berubah menjadi perundungan yang tidak dapat diterima.
Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, menegaskan bahwa sepak bola harus tetap menjadi ruang yang aman bagi semua insan di dalamnya—pemain, pelatih, ofisial, hingga suporter. Ia mengutip pesan FIFA “Stop Hate, Protect Football” dan menekankan bahwa kritik boleh tajam, tetapi tidak boleh berubah menjadi kebencian. “Dukung pemainnya, hormati manusianya, dan jaga sepak bolanya,” ujar Yunus. Ia menegaskan bahwa kekalahan bukan alasan untuk menyerang pribadi, apalagi melibatkan keluarga.
Serangan terhadap Hubner bermula setelah ia memberikan respons di media sosial usai laga melawan Vietnam. Respons itu kemudian memicu gelombang komentar negatif dari sejumlah warganet Vietnam, memperdalam ketegangan yang sebelumnya hanya terbatas pada lapangan. PSSI menekankan bahwa rivalitas antarnegara harus tetap dijaga dalam koridor sportivitas, bukan berubah menjadi konflik digital yang merusak.
Pernyataan PSSI selaras dengan upaya FIFA melalui Social Media Protection Service (SMPS), layanan yang telah memoderasi puluhan juta unggahan dan komentar berisi pelecehan, ancaman, dan diskriminasi selama Piala Dunia 2026. Layanan ini menjadi bukti nyata bahwa cyberbullying di dunia sepak bola kini dianggap sebagai ancaman serius yang harus ditangani secara sistematis.
PSSI juga mengingatkan suporter Indonesia agar tidak terprovokasi untuk membalas serangan dengan cara yang sama. Menurut Yunus, saling serang di media sosial hanya akan memperpanjang konflik dan mengaburkan esensi olahraga. “Kesalahan di lapangan tidak menghapus hak manusia untuk dihormati,” tegasnya.
Menjelang bergulirnya kompetisi domestik musim 2026-2027—dengan Liga 1 dimulai pada 4 September dan Championship pada 12 September—PSSI berharap dukungan suporter tidak hanya muncul saat pemain mengenakan jersey Timnas. Dukungan yang konsisten, baik di stadion maupun di dunia maya, menjadi kunci kebangkitan para pemain yang kini harus membuktikan diri di level klub.
“Kami percaya, kebangkitan sejati dimulai dari penghargaan, bukan dari kebencian,” tutup Yunus.















