Sumbawanews.com,- Setelah Timnas Indonesia kalah 0-3 dari Vietnam dalam laga fase grup Piala AFF 2026, bek Justin Hubner dan keluarganya menjadi sasaran ujaran kebencian serta ancaman di media sosial. PSSI secara resmi menyatakan kecamannya terhadap serangan personal tersebut, menegaskan bahwa rivalitas di lapangan tidak boleh berubah menjadi perundungan digital yang menyasar kehidupan pribadi pemain. Sekjen PSSI Yunus Nusi menyerukan agar kritik terhadap performa tim tetap berada dalam batas sportivitas, dan menekankan bahwa tidak ada toleransi terhadap doxing atau pelecehan terhadap keluarga pemain.
PSSI tidak hanya mengutuk tindakan tersebut, tetapi juga mengadopsi kampanye global FIFA bertajuk “Stop Hate, Protect Football” sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan sepak bola yang aman dan bebas dari cyberbullying. Yunus Nusi menegaskan, “Kritik boleh tajam, tetapi tidak boleh menjadi kebencian. Dukung pemainnya, hormati manusianya, dan jaga sepak bolanya.” Pernyataan ini menyusul respons Hubner di media sosial usai laga, di mana ia menyiratkan bahwa hasil berbeda mungkin terjadi jika kedua tim bertemu dengan kekuatan terbaik—sebuah komentar yang kemudian memicu gelombang reaksi agresif dari sejumlah warganet Vietnam.
PSSI juga meminta suporter Indonesia untuk tidak terlibat dalam siklus balas dendam digital, menekankan bahwa persaingan antarnegara harus tetap dijaga dalam koridor sportivitas. Kasus ini menjadi peringatan tegas bahwa batas antara pertandingan sepak bola dan kehidupan pribadi pemain tidak boleh dilanggar, terlepas dari hasil akhir pertandingan.















