Sumbawanews.com,- Arsenal meraih trofi pertama musim 2026/2027 setelah mengalahkan Manchester City 3-0 dalam laga Community Shield 2026 di Principality Stadium, Cardiff, pada Minggu, 16 Agustus 2026. Riccardo Calafiori, Kai Havertz, dan Martin Ødegaard masing-masing mencetak satu gol untuk kemenangan The Gunners. Kemenangan ini mengukuhkan koleksi gelar Community Shield Arsenal menjadi 18, terbanyak sepanjang sejarah. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai: mematahkan “kutukan” yang menghantui juara Community Shield sejak 2019—yakni gagal meraih gelar Premier League di musim yang sama.
Sejak Manchester City meraih double Community Shield dan Premier League pada 2018/2019, tak ada satu pun pemenang Community Shield yang berhasil mempertahankan gelar liga. Dari tujuh musim berikutnya—2019 hingga 2025—semua juara Community Shield gagal menjadi juara liga: City finis kedua (2019), Arsenal peringkat delapan (2020), Leicester peringkat delapan (2021), Liverpool kelima (2022), Arsenal runner-up (2023), City ketiga (2024), dan Crystal Palace ke-15 (2025). Secara historis, sejak 1989, hanya delapan dari 36 pemenang Community Shield yang berhasil menjadi juara Premier League di musim yang sama—persentase sekitar 22 persen.
Arsenal sendiri memiliki catatan ambivalen setelah menang di Community Shield. Dalam lima dari tujuh kesempatan terakhir (2020–2024), mereka gagal meraih gelar liga, dengan posisi terbaik runner-up pada 2023 dan 2024. Meski pernah meraih gelar liga setelah menang Community Shield pada 1934/35, 1938/39, dan 1948/49, tren modern justru menunjukkan sebaliknya: trofi pembuka sering kali menjadi ilusi momentum.
Kemenangan 3-0 atas Manchester City memberi Arsenal dorongan psikologis dan kepercayaan diri. Namun, sejarah menunjukkan bahwa juara Community Shield bukanlah indikator kuat kesuksesan di liga. Mikel Arteta dan timnya kini dihadapkan pada ujian sejati: apakah mereka akan menjadi tim pertama dalam tujuh tahun terakhir yang mampu mematahkan kutukan ini, atau sekadar menjadi tambahan daftar kegagalan yang tak terhindarkan? Jawabannya hanya bisa dijawab oleh hasil di lapangan—bukan oleh angka atau sejarah.















