Sumbawanews.com,- Manchester City resmi memasuki masa transisi setelah kepergian Pep Guardiola, dengan Enzo Maresca mengambil alih kendali tim pada laga pembuka musim 2026/2027. Dalam laga Community Shield, Minggu (16/8), City dikalahkan Arsenal 0-3 di stadion Wembley, menjadi awal yang berat bagi pelatih baru yang pernah menjadi asisten Guardiola pada 2022–2023. Kekalahan telak ini memperjelas tantangan besar yang dihadapi Maresca dalam membangun kembali identitas tim setelah satu dekade dominasi di bawah arahan legenda asal Spanyol itu.
Enzo Maresca bukanlah sosok asing di City. Ia pernah menjadi bagian dari staf kepelatihan Guardiola sebelum melanjutkan karier sebagai pelatih kepala di Leicester City dan Chelsea. Di Chelsea, Maresca sukses membawa tim meraih gelar UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub 2025, membuktikan kemampuannya membangun tim dari fondasi yang rapuh. Namun, menggantikan Guardiola—yang selama sepuluh tahun membawa City meraih enam gelar Liga Inggris, Liga Champions, dan seluruh trofi domestik maupun internasional—adalah tantangan yang jauh melampaui beban normal.
Pundit BBC dan mantan pemain Everton, Pat Nevin, menilai kekalahan 0-3 bukan sekadar kegagalan taktis, tapi gambaran nyata dari proses transisi yang belum selesai. “Para penggemar Man City pasti menyadari, ini adalah masa transisi,” ujar Nevin. “Mereka datang dengan ambisi memenangkan Community Shield, tapi performa mereka jauh dari harapan.” Nevin menambahkan bahwa kehilangan Erling Haaland dalam kondisi optimal turut memperparah ketimpangan serangan City, sementara kontribusi Doku dan Semenyo masih sporadis. Elliot Anderson, meski berusaha keras, belum mampu menemukan kecocokan dengan ritme tim.
Persaingan di Liga Inggris kian sengit. Arsenal, sebagai juara bertahan, terus memperkuat skuadnya di bawah Mikel Arteta, yang terkejut sendiri dengan kemenangan telak timnya. Sementara itu, City harus menghadapi realitas bahwa membangun kembali kejayaan tidak bisa dilakukan dalam semalam. Maresca kini dihadapkan pada tugas berat: menyatukan pemain, membangun filosofi baru, dan membuktikan bahwa City bisa tetap menjadi raksasa—meski tanpa sang arsitek legendarisnya.















