Sumbawanews.com,- Nova Widianto resmi ditunjuk sebagai Kepala Pelatih Ganda Campuran Pelatnas Cipayung pada Rabu, 5 Agustus, menggantikan posisi yang kosong sejak masa pasca-Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Ia dipilih karena rekam jejaknya yang tak terbantahkan—baik sebagai juara dunia dan peraih emas Olimpiade di masa aktif, maupun sebagai pelatih yang pernah membawa ganda campuran Malaysia, Chen Tang Jie/Toh Ee Wei, menjadi juara dunia. Namun tugasnya kali ini jauh lebih kompleks: membangun kembali ganda campuran Indonesia dari dasar, setelah bertahun-tahun tenggelam di luar jajaran elite dunia.
Dekade lalu, ganda campuran Indonesia adalah kekuatan yang ditakuti di setiap turnamen besar. Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir menjadi simbol kejayaan dengan gelar Olimpiade 2016 dan kejuaraan dunia 2013. Setelah mereka pensiun, Praveen Jordan/Melati Daeva sempat menjadi harapan, dengan titel All England dan peringkat empat dunia. Kini, tak ada satu pun wakil Indonesia yang masuk 10 besar peringkat BWF. Pasangan tertinggi, Jafar Hidayatullah/Felisha Pasaribu, hanya menempati posisi ke-13, diikuti Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah (ke-20) dan Marwan Faza/Aisyah Salsabila Putri Pranata (ke-23).
Kondisi ini membuat Nova menghadapi tantangan ganda: membangun sistem pelatihan yang konsisten dari nol, sambil berpacu dengan waktu. Race to Olympics 2024 sudah di ambang pintu, dan Indonesia belum memiliki pasangan yang siap bersaing di level tertinggi. Di tengah tekanan itu, satu modal berharga masih melekat pada Nova—pengalaman langsung memimpin ganda campuran hingga puncak dunia, bukan hanya sebagai pemain, tapi juga sebagai pelatih. Ia tahu persis bagaimana meracik kekompakan, strategi, dan mental juara di nomor yang paling dinamis dan rentan.
Dengan kepercayaan PBSI yang tinggi dan bekal pengalaman global, Nova Widianto kini bukan sekadar pelatih—ia adalah harapan terakhir untuk mengembalikan nama Indonesia di peta ganda campuran dunia.















