Sumbawanews.com,- Tim dosen Politeknik Lamandau, Kalimantan Tengah, berhasil mengolah gulma invasif dari perkebunan kelapa sawit menjadi kertas berkualitas, dengan membuat mesin produksi sendiri. Berbasis penelitian yang dimulai sejak 2025, tim yang dipimpin Ika Fitriana Dyah Ratnasai mengidentifikasi 12 jenis gulma berdaun lebar—seperti Asystasia gangetica, Mikania micrantha, Melastoma malabathricum, Mimosa pudica, dan Scleria sumatrensis—beserta teki, rumput, dan paku-pakuan sebagai bahan baku potensial. Semua jenis gulma tersebut diuji kandungan lignoselulosanya dan terbukti dapat dicampur atau dikompositkan untuk menghasilkan pulp kertas.
Proses produksi dimulai dengan pengumpulan dan pencucian gulma, lalu dihaluskan menggunakan mesin WAW-25 Pulp Machine yang pernah meraih juara 1 Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah pada 2025. Gulma yang sudah halus dikeringkan angin, lalu diproses dalam oven 75 derajat Celsius selama 24 jam. Selanjutnya, dilakukan delignifikasi dengan larutan natrium hidroksida (NaOH) 10 persen selama 90 menit, ditambah 10 persen bubuk talek per 100 gram gulma kering, untuk memperoleh serat selulosa murni dan meningkatkan homogenitas permukaan kertas. Hasil pulp dianalisis kadar air, rendemen, dan morfologi serat sebelum dicetak dalam ukuran A6 dan dikeringkan di bawah sinar matahari.
Kertas hasil produksi memiliki gramatur 124,1 gram per meter persegi, kekuatan tarik 7,85 kN/m, dan ketahanan sobek 508,0 mN—lebih berat dan tebal dibanding kertas buku tulis umum, namun memenuhi standar untuk kertas kerajinan tangan. Tim sengaja menghindari proses bleaching agar tidak menghasilkan limbah berbahaya. Air lindi hitam dari proses pengolahan ditampung dan diolah menjadi pupuk organik cair yang mampu meningkatkan aktivitas mikroba tanah, mempercepat pertumbuhan tanaman, serta mengikat logam berat dan memperbaiki struktur tanah.
Uji organoleptik hedonic dilakukan terhadap 30 panelis dari akademisi, praktisi perkebunan, masyarakat umum, dan instansi pemerintah, dengan penilaian berdasarkan warna, tekstur, kenampakan serat, aroma, dan keseluruhan kesukaan menggunakan skala 1–3. Hasilnya menunjukkan penerimaan positif terhadap kertas alami berwarna kecoklatan ini. Tim peneliti terdiri dari Roni Ismoyojati, Lailatun Nisfimawardah, Firdaus Husein, Kristina Pare, Asmaul Muslivah, Sri Ayu Winnasih, dan Ilham Febriansyah, dengan dukungan Karya Teknik Agri di Kalimantan Tengah.















