Sumbawanews.com,- Uganda meresmikan monumen untuk mengenang Yonatan Netanyahu, kakak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang tewas dalam operasi penyelamatan sandera di Bandara Entebbe pada 4 Juli 1976. Peresmian dilakukan oleh Jenderal Muhoozi Kainerugaba, putra Presiden Yoweri Museveni, di lokasi terminal lama bandara yang menjadi saksi operasi militer Israel itu. Yonatan adalah satu-satunya prajurit Israel yang gugur dalam misi berdurasi kurang dari 90 menit yang berhasil menyelamatkan lebih dari 100 sandera dari pembajak pesawat Air France. Tiga sandera—Jean-Jacques Mimouni, Pasco Cohen, dan Ida Borochovitch—juga tewas dalam baku tembak, sementara Dora Bloch, sandera lain yang dirawat di rumah sakit Kampala, dibunuh oleh aparat Uganda sebagai pembalasan. Operasi itu memicu kemarahan rezim Idi Amin, yang saat itu memimpin Uganda dan mendukung para pembajak.
Monumen menggambarkan Yonatan Netanyahu sedang melangkah maju sambil memegang senapan mesin, mengabadikan keberanian yang menjadi simbol perjuangan melawan terorisme. Kainerugaba menyebut peristiwa itu sebagai babak menyakitkan dalam sejarah Uganda, tetapi menekankan bahwa hubungan kedua negara kini telah berkembang menjadi kemitraan berbasis saling percaya dan penghormatan. Ia juga menghormati 45 tentara Uganda yang tewas dalam pertempuran, mengakui mereka berjuang demi keyakinan mereka, meskipun pemerintahan Idi Amin yang mereka layani adalah rezim diktator. Para pembajak dan tiga orang yang membantu mereka di Uganda juga tewas dalam operasi tersebut. Pesawat yang dibajak, Airbus A300, awalnya lepas landas dari Tel Aviv pada 27 Juni 1976, singgah di Athena, lalu dipaksa terbang ke Libya dan akhirnya mendarat di Entebbe setelah para pembajak menuntut tebusan 5 juta dolar AS dan pembebasan 53 militan.















