Sumbawanews.com,- Lebih dari 60.000 migran menyeberang dari Maroko ke Ceuta, wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara, memicu krisis humaniter dan ketegangan diplomatik. Sejumlah politikus dan pengamat Spanyol menduga Israel dan Amerika Serikat memanfaatkan situasi ini sebagai tekanan politik terhadap pemerintah Spanyol, yang dianggap menentang kebijakan militer kedua negara di Gaza dan Iran. Tuduhan ini muncul setelah Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, mengkritik Spanyol melalui media sosial, menuduh negara itu mempertahankan “wilayah kolonial” dan menyebut krisis migran sebagai akibat kebijakan dalam negerinya sendiri. Menteri Perhubungan Spanyol Oscar Puente merespons dengan pernyataan singkat: “Ya, sekarang semuanya tampaknya mulai menjadi sangat jelas.” Sejumlah tokoh seperti jurnalis Jose Vizner dan aktor Javier Bardem membagikan konten yang mengaitkan krisis ini dengan dukungan Israel terhadap gerakan separatis di Ceuta, sementara pengamat Bruno Macaes menilai AS dan Israel aktif memanfaatkan insiden ini untuk menyerang pemerintah Spanyol. Pemerintah Spanyol menyatakan sekitar 48.000 migran telah kembali ke Maroko dengan pengawalan militer, sementara 67 orang diperkirakan tewas dalam upaya penyeberangan. Maroko membantah terlibat dalam memicu arus migrasi, meski sejumlah analis menilai mustahil ribuan orang menyeberang tanpa keterlibatan otoritas Maroko, yang kemungkinan marah atas kunjungan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez ke Aljazair. Presiden AS Donald Trump menyebut situasi di Ceuta sebagai “bencana” dan memperingatkan bahwa jika ia tidak berkuasa, Amerika Serikat akan menghadapi invasi migran yang jauh lebih besar.















